blogdetik.com Daftar Blog

Menguak Tabir Karawang

Generasi Karawang

  • Home
  • SEKAPUR SIRIH
  • TAUHID
  • Subscribe By RSS
You are here : Menguak Tabir Karawang
Mei 08

SITUS DESA DONGKAL KARAWANG

Published By Encum Nurhidayat under SEJARAH    

Secara administratif situs Dongkal berada di Dusun Dongkal Desa Dongkal Kecamatan Pedes Kabupaten Karawang, Situs ini terletak pada koordinat 107^23′11″ BT dan 06^04′23″ LS, kira-kira 2 Km ke arah barat dari Situs Kobak kendal/Kendaljaya.

Situs ini seluas 1 Ha ini jadi lahan perburuan harta karun pada tahun 1970-an, Beberapa temuan itu sekarang berada di Pusat penelitian dan pengembangan Arkeologi, Jakarta, diantaranya gerabah berbentuk periuk dan cawan.

Sumber

“Buku Sejarah Karawang”

No Comments
Mei 08

Awal Peradaban di Pantai Utara Karawang Jawa Barat

Published By Encum Nurhidayat under BUDAYA    

gerabah-kendaljaya
Tinggalan arkeologi di Dusun Kobak Kendal, Desa Kendal Jaya Kecamatan Pedes, Karawang pertama kali disinggung sekitar tahun 60-an. Ketika itu, Sutayasa dalam laporannya yang menyangkut tembikar dari komplek Buni menyebutkannya adanya temuan fragmen tembikar dan kerangka manusia. Di antara kerangka manusia tersebut terdapat fragmen logam (pisau) (Sutayasa,1969: 33). Namun, sayangnya berita dari temuan masyarakat di daerah Kobak Kendal ini, tidak dilanjutkan dengan kegiatan penelitian arkeologi yang intensif sehingga potensi tinggalan arkeologi di daerah tersebut tidak dapat diketahui secara jelas.

Dusun Kobak Kendal kembali menarik perhatian Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional setelah pada awal tahun 2007, sejumlah pemberitaan baik melalui surat kabar maupun media televisi yang menyebutkan adanya temuan benda purbakala, khususnya yang terbuat dari emas di daerah ini. Lokasi yang dimaksud berada di areal persawahan yang berada di Dusun Kobak Kendal, Desa Kendal Jaya, Kecamatan Pedes, Kabupaten Karawang. Untuk mencapai lokasi dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat dari Pasar Rengasdengklok mengambil arah Kecamatan Pedes sekitar 10 Km.

Berdasarkan hasil survei yang telah dilakukan, dapat diambil beberapa kesimpulan awal antara lain; Areal penggalian yang dilakukan merupakan sebuah komplek kubur dari periode prasejarah akhir atau awal masehi. Periode ini lebih dikenal dengan istilah masa protosejarah, yakni masa dimana masyarakat lokal belum mengenal tulisan tetapi daerah ini telah dikenal, didatangi dan dicatat oleh masyarakat internasional serta telah terjadi kontak yang cukup intensif dengan mereka. Kitab Arthasastra dan Sanka Jataka yang diperkirakan berasal dari abad ke-3 sebelum masehi menyebut nama Suvarnabhumi. Kitab Maha Nidesa yang juga berasal dari abad ke-3 sebelum masehi menyebutkan nama tempat seperti Java dan Suvarnabhumi.

Pada masa prasejarah sampai protosejarah, masyarakat Pedes Kuna (red : kuno) merupakan bagian dari komunitas masyarakat yang mengusung budaya komplek tembikar Buni, yakni satu komunitas masyarakat prasejarah yang menghasilkan tembikar dengan pola hias khas Buni, yang hidup di sepanjang pantai utara Jawa Barat mulai dari daerah Banten sampai Cirebon.

Hal ini, didasarkan pada temuan sejumlah kerangka manusia yang disertai dengan sejumlah bekal kubur di antaranya yang paling umum adalah wadah tembikar. Wadah tembikar yang paling dominan adalah bentuk wadah berupa periuk kecil (kendil) berdiameter antara 10-15 cm beserta tutupnya, piring dengan bibir tepian tegak, dan mangkuk. Wadah-wadah tembikar ini menurut informasi ada yang berisi manik-manik. Wadah-wadah ini diletakkan di bagian kepala atau bagian kaki dari kerangka. Selain wadah tembikar, biasanya dibekali pula dengan senjata tajam berupa parang, pisau atau tombak. Yang menarik bagi sebagian kerangka diberi perhiasan berupa kalung, cincin, penutup mata dan gelang . Kalung terbuat dari manik-manik emas dan manik-manik kaca. Hal ini menandakan adanya stratifikasi sosial dalam masyarakat pendukung Tembikar Buni.

Temuan berupa bandul jala, kapak batu, dan tatap pelandas memberi informasi bahwa masyarakat tembikar Buni bermata pencaharian sebagai nelayan, mereka juga telah mengenal bercocok tanam dan sebagian telah memiliki keahlian membuat wadah-wadah tembikar dengan teknologi tatap pelandas. Selain itu, mereka telah memiliki keahlian membuat alat-alat logam dan manik-manik. Pembuatan.

Adanya kontak-kontak dengan dunia luar pada masa protosejarah (mungkin sejak masa prasejarah) diketahui dari sejumlah tinggalan manik-manik. Di Asia Tenggara, perdagangan manik-manik tertua mulai sekitar 400 SM dan Arikamedu telah dikenal sebagai pusat produksi manik-manik yang diekspor ke Asia Tenggara. Arikamedu sebagai pusat penghasil manik-manik ini berlangsung sampai abad ke-3 M, kemudian pusat-pusat produksi tersebut berpindah ke Asia Tenggara seperti Klong Thom (Thailand Selatan) dan Oc-eo (Viernam) dan Mantai (Srilangka).

Selain manik-manik kaca, bahan kaca, manik batu karnelian, Tembikar kasar India juga termasuk temuan yang cukup penting. Tembikar-tembikar ini dibawa oleh para pendatang sebagai alat keperluan sehari-hari dan tidak diperdagangan. Tembikar-tembikar kasar India (Arikamedu) telah diproduksi sekitar akhir abad ke-1 sebelum masehi sampai awal abad ke 1 Masehi atau abad ke 2 M.

Adanya jalur perdagangan India Asia Tenggara termasuk Nusantara, didukung oleh catatan Clodius Ptolomeaus dari abad ke-2-3 Masehi yang membuat peta perjalanan dengan menyebut beberapa tempat di Indonesia, terutama di dekat Selat Sunda. Sebenarnya jalur perdagangan India- Asia Tenggara merupakan jalur pengembangan dari jalur Mediterania India. Jalur perdagangan ini menghubungkan sejumlah situs-situs dari masa protosejarah sampai masa sejarah. Terdapat sejumlah situs-situs protosejarah di Indonesia antara lain situs Kota Kapur, Air Sugihan, Karangagung (Palembang),Batujaya, Cibuaya (Jawa Barat), Sembiran (Bali), dan Takalar (Sulawesi Selatan).

Dari kontak-kontak yang cukup intensif inilah, terjadi akulturasi kebudayaan antara masyarakat pendatang (India) dan masyarakat lokal (masyarakat pendukung tembikar buni), yakni diterimanya kebudayaan India ke dalam kebudayaan lokal. Agama Hindu dan Budha tampak tumbuh dan berkembang di masyarakat yang telah memiliki tingkat budaya yang cukup tinggi (Komplek Tembikar Buni). Hal ini ditandai dengan kehadiran tujuh bangunan bata (candi) di daerah Cibuaya. Temuan tiga arca Wisnu berbahan batu hitam merupakan arca-arca yang dibawa langsung dari India karena bahan batu seperti itu hanya ditemukan di India. Berdasarkan ikonografinya arca-arca ini berasal dari sekitar abad ke-7/8 masehi (Ferdinandus,2002: 8). Bangunan-bangunan suci (stupa ) untuk umat Budha hadir sebagai sebuah komplek pemujaan yang cukup lengkap dan luas di daerah Batujaya.

Kontak budaya tersebut selain memberi dampak diterimanya agama Hindu dan Budha pada akhirnya sebuah institusi kerajaan bersifat Hinduistik juga muncul di Jawa Barat pada sekitar abad ke-5-7 Masehi dengan rajanya yang terkenal bernama Purnawarman.

Pada masa yang lebih kemudian, masyarakat pendukung tembikar Buni pun telah melakukan kontak dengan Cina namun dalam kadar yang sangat terbatas. Hal ini didasarkan pada temuan keramik Cina yang sangat jarang. Yang menarik adalah mengapa para pedagang Cina pada masa awal-awal sejarah tidak melakukan kontak dagang di daerah Jawa Barat ? Hal ini amat berbeda jika dibandingkan dengan situs-situs dari masa Sriwijaya seperti situs Kota Kapur dan Air Sugihan, dimana di situs-situs tersebut fragmen keramik Cina cukup dominan ditemukan.
Satu-satunya berita Cina yang memberi infomasi tentang wilayah Jawa bagian barat hanyalah disampaikan oleh Fa-hsien dari sekitar tahun 414 Masehi, seorang musafir beragama Buddha yang dalam pelayarannya kembali ke Cina, kapalnya terdampar di Ye-po-ti. Menurut Fa-hsien, di daerah ini banyak ditemukan orang-orang brahmana dan penganut agama kotor sedangkan penganut Budha sangat sedikit sekali dijumpai

Mengingat lokasi situs Pedes yang hanya berjarak 2 km dari situs Cibuaya (abad ke 7/8 M). Besar kemungkinan masyarakat Pedes Kuna juga merupakan pendukung komplek candi di Cibuaya namun hal ini tentu masih terlalu dini untuk dijadikan sebuah pembenaran. Penelitian lebih lanjut yang disertai dengan ekskavasi sebagai cara mengumpulkan data arkeologi secara sistimatis sudah merupakan sebuah keharusan untuk dapat mengungkap eksistensi masyarakat Pedes lebih lanjut. Semoga.

Agustijanto Indradjaya
Peneliti di Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

No Comments
Mei 06

Tiga Prabu Wangi

Published By Encum Nurhidayat under SEJARAH    

Lingga Dewata berkuasa di Pakuan pada tahun 1311 1333 masehi.

Lingga Dewata diperkirakan menjadi raja peralihan yang memindahkan pusat kerajaan Sunda ke Kawali, karena ia di makamkan di Kikis. Kemudian digantikan oleh Ajiguna Wisesa dengan gelar Prabu Ajiguna Linggawisesa (1333 - 1340) disebut-sebut sebagai raja Sunda pertama yang berkedudukan di Kawali.

Ajiguna Linggawisesa adalah menantu dari Lingga Dewata yang menikah dengan Dewi Uma Lestari atau Ratu Santika. Didalam versi lainnya disebutkan suami dari adik Lingga Dewata, yang menikah dengan Ratna Uma Lestari, putrinya Prabu Citraganda. Tentang muasal Ajiguna Wisesa kurang terlacak, jika dikaitkan dengan Suryadewata, putranya yang menjadi leluhur Talaga, mungkin pula ia berasal dari daerah Talaga.

Dari pernikahannya dengan Dewi Uma Lestari melahirkan dua orang putra, yakni Ragamulya dan Suryadewata. Ragamulya menggantikan Ajiguna Linggawisesa. Dalam Carita Parahyangan disebut Sang Aki Kolot. Ragamulya bernama nobat Prabu Ragamulya Luhur Prabawa, bertahta dari tahun 1340 1350 masehi, sedangkan Suryadewata menjadi raja daerah Talaga, dan dikenal sebagai leluhur Talaga, namun ia wafat ketika sedang berburu, dan dimakamkan di Wanaraja (Garut), sehingga ia diberi gelar Sang Mokteng Wanaraja.

Prabu Ragamulya Luhur Prabawa mempunyai dua orang putra, yakni Linggabuana dan Bunisora. Kelak keduanya menjadi raja di Kawali dan memiliki nama yang harum dalam sumbangsihnya terhadap perjalanan sejarah di tatar Sunda.

Raja-raja Kawali yang terkenal

Penguasa Kawali yang banyak dikisahkan, yaitu Lingga Buana (Prabu Wangi), Niskala Wastu Kencana (Prabu Wangisutah) dan Jaya Dewata (Prabu Silihwangi). Didalam sejarah lisan, ketiga raja ini kerap dikaitkan dengan masalah sejarah masa lalu di tatar Sunda. Seolah-olah Sunda tidak memiliki raja lainnya selain ketiga penguasa ini, dan menggunakan nama gelar Wangi.

Tentang penggunaan nama Wangi sempat menjadi perdebatan dikalangan para sejarawan. Istilah wangi diberikan kepada raja-raja Sunda yang dianggap masyarakat mengharumkan Sunda. Disisi lain, masyarakat merasa kurang ajar (calutak) jika menyebutkan nama asli dari rajanya, sehingga mereka lebih nyaman menggunakan nama kehormatannya, seperti nama Wangi. Perdebatan demikian terjadi dalam mencari : siapakah raja Sunda yang bergelar Prabu Silihwangi.

Menurut Yoseph Iskandar (2005) : Prof. Dr. Syatrohaedi bersikeras mengemukakan pendapatnya, bahwa Mahaprabu Niskala Wastu Kencana itulah yang yang lebih tepat sebagai tokoh Prabu Siliwangi. Karena Sang Mahaprabu merupakan Silih = pengganti keterkenalan dan keharuman nama Prabu Wangi yang di Palagan Bubat. Hanya raja sekaliber Prabu Wangi yang layak dijuluki Prabu Silih Wangi atau Prabu Siliwangi. (hal.212)

Perdebatan lainnya dalam mencari keaslian Siliwangi terjadi ketika Purbatjaraka pada tahun 1921 menafsirkan didalam bukunya De Batoe-toelis bij Buitenzorg, bahwa Sri Baduga Maharaja yang tercantum dalam prasasti Batutulis Bogor adalah raja yang gugur di Bubat. Sehingga dari tahun 1921, pelajaran Sejarah disekolah-sekolah mengisahkan tentang Gugurnya Sri Baduga Maharaja di Bubat pada tahun 1357 masehi.

Pendapat Purbatjaraka dikritik oleh Saleh Danasasmita, : karena penyebutan Sri Baduga sebagai Prabu Siliwangi yang gugur di palagan Bubat terlalu dipaksakan, bertentangan dengan Kropak 406 Carita Parahyangan dan Pararaton, pada peristiwa Bubat, Sri Baduga belum lahir, bahkan Wastu Kancana baru berumur sembilan tahun. (Ibid. Hal.224)

Perdebatan mereda setelah Saleh Danasasmita (19811984) meluruskan bacaan Prasasti Batutulis Bogor, yang sejalan dengan maksud dari naskah Pustaka Nagara Kretabhumi parwa 1 sarga 4. Kandungan naskah tersebut berisi, sebagai berikut :

Raja Pajajaran Winastatwan ngaran Prabhuguru Dewataprana muwah winastwan ngaran Sri Baduga Maharaja Ratuhaji ing Pakwan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata putra ning Rahyang Dewa Niskala. Rahyang Dewa Niskala putra ning Rahyang Niskala Wastu Kancana. Rahyang Niskala Wastu Kancana putra Ning Prabu Maharaja Linggabhuanawisesa.

Raja Pajajaran dinobatkan dengan gelar Prabuguru Dewataprana dan dinobatkan lagi dengan gelar Sri Baduga Maharaja Ratuhaji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata, putra Rahiyang Niskala Wastu Kancana. Tahiyang Wastu Kancana putra Prabu Linggabuanawisesa] (ibid 226).

Saat ini memang tak dapat dipungkiri, bahwa ketiga raja Sunda tersebut berhak menyandang nama Wangi, yakni Prabu Wangi, Prabu Wangisutah dan Prabu Silihwangi, masing-masing untuk gelar Sri Maharaja, Prabu Niskala Wastukancana dan Sri Baduga Maharaja.

Prabu Wangi

Linggabuana menggantikan Ragamulya (Aki Kolot), dengan nama nobat Prabu Lingga Buana (1350 1357) atau disebut juga Prabu Maharaja alias Prabu Wangi. Didalam Pustaka Nagara Kretabhumi parwa 1 sarga 4 disebut Prabu Maharaja Linggabhuanawisesa.

Linggabuana dinobatkan pada tanggal 14 bagian terang bulan Palguna tahun 1272 saka, bertepatan dengan tanggal 22 Februari 1350 masehi. Sebelum menggantikan posisi ayahnya, ia pernah menjabat sebagai adipati selama tujuh tahun dibawah perintah Sang Ajiguna, kakeknya. Kemudian ia pun menjadi Mahamantri merangkap sebagai putra mahkota selama dua tahun dibawah perintah Ragamulya, ayahnya.

Linggabuana disebut Prabu Maharaja, karena dianggap menguasai seluruh tatar Sunda yang sama dengan kekuasaan Purnawarman. Ia terkenal sebagai tokoh utama didalam peristiwa Palagan Bubat yang gugur jauh dari kampung halamannya. Prabu Maharaja dilambangkan sebagai ksatria sekaligus penguasa Sunda nu ajeg kana pamadegannana, memiliki harga diri dan dijadikan anutan penting dalam cara-cara orang Sunda mempertahankan haknya. Setelah gugur di Palagan Bubat masyarakat Sunda memberinya gelar Prabu Wangi.

Linggabuana beristrikan Dewi Lara Lisning, ia memperoleh empat orang putra-putri. Putri sulungnya diberi nama Citraresmi, oleh kakeknya diberi nama Dyah Pitaloka. Ia dipersunting oleh Prabu Hayam Wuruk, namun didalam Pasunda Bubat ia gugur dengan cara belamati. Putra yang kedua dan ketiga dari Linggabuana meninggal pada usia satu tahun. Putra yang keempat diberi nama Niskala Wastu Kencana yang lahir pada tahun 1348 masehi.

Linggabuana dengan putrinya Dyah Pitaloka dikisahkan di dalam Fragmen Carita Parahyangan. Sekalipun tidak terlalu banyak, namun telah menunjukan bahwa ia tokoh utama yang gugur pada peristiwa Bubat. Isi naskah tersebut, sebagai berikut :

Boga anak, Prebu Maharaja, lawasna jadi ratu tujuh taun, lantaran keuna ku musibat, Kabawa cilaka ku anakna, ngaran Tohaan, menta gede pameulina.
Urang rea asalna indit ka Jawa, da embung boga salaki di Sunda. Heug wae perang di Majapahit.

Prabu Wangi digantikan oleh Mangkubumi Suradipati atau Prabu Bunisora alias Kuda Lalean. Hal tersebut dikarenakan Niskala Wastu Kancana, putra Prabu Wangi masih berumur sembilan tahun.

Bunisora bertahta pada tahun 1357 sampai dengan 1371 masehi, bergelar Prabu Batara Guru Pangadiparamarta Janadewabrata, sejak masa muda tekun memperdalam ilmu keagaaman. Penulis Carita Parahyangan memberinya gelar Satmata, yaitu sebutan untuk tingkatan kelima dari tujuh tingkatan keagamaan pada waktu itu. Karena kesalehannya pula maka ia dijuluki Batara Guru di Jampang. Bunisora dimakamkan di Geger Omas.

Sang Bunisora didalam cerita Galuh dikisahkan, bahwa ia ayah dari Bratalegawa, seorang pengusaha yang terkenal. Bratalegawa dikenal sebagai penganut agama Islam pertama di Galuh, sehingga mendapat Gelar Haji Purwa Galuh (Haji pertama di Galuh). Banyak kisah dari keturunannya yang kemudian menjadi pemuka agama di daerah Jawa Barat. Mungkin spirit dan kesungguhan menekuni masalah keagamaan yang diciptakan Sang Bunisora ini mendorong keturunannya untuk menekuni agamanya masing-masing.

Prabu Wangisutah

Ketika terjadi Pasunda Bubat usia Wastu Kancana baru 9 tahun dan ia satu-satunya ahli waris Prabu Maharaja yang masih hidup. Setelah pemerintahan di jalankan pamannya yang sekaligus juga mertuanya (Sang Bunisora), Wastu Kancana dinobatkan menjadi raja pada tahun 1371 pada usia 23 tahun.

Sebelum menjadi raja Sunda, Wastukancana mengembara kedaerah Lampung. Ia bertemu dengan seorang putri penguasa Lampung, yakni Lara Sakti, kemudian dijadikannya sebagai permaisurinya yang pertama. Dari perkawinannya lahir Sang Haliwungan yang bernama nobat Prabu Susuktunggal.

Permaisuri yang kedua dari Wastukancana adalah Mayangsari, puteri sulung Sang Bunisora atau Mangkubumi Suradipati. Dari perkawinan ini lahir Ningrat Kancana, setelah menjadi penguasa Galuh bergelar Prabu Dewa Niskala.

Niskala Wastu Kancana banyak dibimbing tentang masalah kenegaraan dan keagaamaan, sehingga tumbuh menjadi orang bijaksana dan banyak disukai masyarakat. Niskala Wastu Kancana menggantikan posisi Bunisora pada usia yang 23 tahun, dengan gelar Mahaprabu Niskala Wastu Kancana atau Praburesi Buana tunggadewata, dalam versi naskah yang paling muda menyebutnya Prabu Linggawastu putra Prabu Linggahiyang.

Keharuman nama Wastu Kancana membawa pada penafsiran dari versi yang berbeda, bahwa : Mahaprabu Niskala Wastu Kancana itulah yang lebih tepat sebagai tokoh Prabu Silihwangi. Karena Sang Mahaprabu merupakan silih (pengganti) keterkenalan dan keharuman nama Prabu Wangi yang gugur di palagan Bubat. Hanya raja sekaliber Prabu Wangi yang layak dijuluki Prabu Silih Wangi atau Prabu Siliwangi.

Karya besar yang dipersembahkan untuk generasi sesudahnya diabadikan dalam dua buah prasasti yang terletak di Kawali. Prasasti tersebut sangat membantu generasi sesudahnya untuk mengenal keberadaan kerajaan Sunda di Kawali.

Wastu Kancana juga melekat dihati masyarakat akan kesalehan sosialnya. Masyarakat Sunda mengenal ajaran atau nasehat yang ia berikan, berupa uraian tentang kebajikan dan kesejahteraan sejati sebagai mana yang terkandung di dalam ajaran Siksa Kanda Ng Karesyan, kemudian dikenal dengan sebutan Wangsit (Wasiat) Wastu Kancana. Mungkin karena ajarannya ini pula yang kemudian mendapat gelar Prabu Wangisutah. Wastu Kencana didalam alur Sejarah Sumedang dan Galuh, disebutkan juga sebagai leluhur Pangeran Santri dan Pucuk Umum Sumedang.

Prabu Niskala Wastu Kancana dicerirtakan didalam Fragmen Carita Parahyangan, sebagai berikut :

Aya deui putra Prebu, kasohor ngaranna, nya eta Prebu Niskalawastu kancana, nu tilem di Nusalarang gunung Wanakusuma. Lawasna jadi ratu saratus opat taun, lantaran hade ngajalankeun agama, nagara gemah ripah.
Sanajan umurna ngora keneh, tingkah lakuna seperti nu geus rea luangna, lantaran ratu eleh ku satmata, nurut ka nu ngasuh, Hiang Bunisora, nu hilang di Gegeromas. Batara Guru di Jampang.
Sakitu nu diturut ku nu ngereh lemah cai.
Batara guru di Jampang teh, nya eta nyieun makuta Sanghiang Pake, waktu nu boga hak diangkat jadi ratu.
- Beunang kuru cileuh kentel peujit ngabakti ka dewata. Nu dituladna oge makuta anggoan Sahiang Indra. Sakitu, sugan aya nu dek nurutan. Enya eta lampah nu hilang ka Nusalarang, daek eleh ku satmata. Mana dina jaman eta mah daek eleh ku nu ngasuh.
Mana sesepuh kampung ngeunah dahar, sang resi tengtrem dina ngajalankeun palaturan karesianana ngamalkeun purbatisti purbajati. Dukun-dukun kalawan tengtrem ngayakeun perjangjian-perjangjian make aturan anu patali jeung kahirupan, ngabagi-bagi leuweung jeung sakurilingna, ku nu leutik boh kunu ngede moal aya karewelanana, para bajo ngarasa aman lalayaran nurutkeun palaturan ratu.
Cai, cahaya, angin, langit, taneuh ngarasa senang aya dina genggaman pangayom jagat.
Ngukuhan angger-angger raja, ngadeg di sanghiang linggawesi, puasa, muja taya wates wangenna.
Sang Wiku kalawan ajen ngajalankeun angger-angger dewa, ngamalkeun sanghiang Watangageung. Ku lantaran kayakinan ngecagkeun kalungguhanana teh.

Setelah Wastu Kancana wafat pada tahun 1475, kerajaan Sunda dipecah dua diantara Susuktunggal (Pakuan) dan Dewa Niskala (Galuh) dengan kedudukan yang sederajat. Namun politik kesatuan wilayah telah membuat jalinan perkawinan antar cucu Wastu Kencana, sebagaimana dilakukannya melalui pernikahan putra Dewa Niskala (Jayadewata) dengan putri Susuktunggal (Kentring Manik Mayang Sunda).

Prabu Silihwangi

Penguasa Sunda di Kawali yang kemudian mengalihkan pusat pemerintahannya ke Pakuan dan paling banyak dikisahkan masyarakat dalam bermacam versi, adalah Jayadewata. Seolah-olah petilasan dari raja Sunda atau Karuhun Urang Sunda manapun tidak lengkap jika tidak dikaitkan dengan kebesaran nama Prabu Silihwangi. Demikian pula dalam kisah-kisah yang bermuara dari hasil penelitian sejarah. Tak kurang yang berpendapat bahwa ia adalah tokoh penting yang terlibat di Palagan Bubat. Selain itu, ada juga yang menafsirkan bahwa Prabu Siliwangi tersebut adalah Niskala Wastu Kancana.

Didalam versi sejarah yang dicaruk dengan masalah keagamaan, Prabu Siliwangi digambarkan sebagai raja Pajajaran terakhir yang dikejar kejar putranya yang bernama Kian Santang. Padahal ketika ia masih bertahta di Pakuan, Pajajaran masih ajeg, sekalipun ekspansi yang dilakukan para saudagar Islam sudah mulai merebak di tatar Sunda, sehinga ia pun dikisahkan mengeluarkan suatu amanah yang dikenal Wangsit Siliwang. Didalam versi sejarah resmi mencatat, bahwa raja Pajajaran terakhir bukanlah Prabu Siliwangi, melainkan Ragamulya Suryakencana, yang bertahta tanpa mahkota dan wafat di Pulasari, Pandeglang.

Jayadewata pada masa mudanya lebih dikenal dengan sebutan Sang Pamanah Rasa, putera Dewa Niskala. Kemudian ia mewarisi tahta ayahnya di Galuh (Dewa Niskala), dalam kapasitasnya sebagai penguasa Galuh bergelar Prabu Guru Dewataprana. Kemudian ia pun mewarisi tahta mertuanya di Pakuan. Gelar Sri Baduga Maharaja yang ia sandang di peroleh karena ia mewaris dua kerajaan, yakni Sunda dengan Galuh.

Sumber utama tentang keberadaan Sri Baduga Maharaja berasal dari prasasti Kabantenan dan Batutulis Bogor. Namun kisah Jayadewata jauh lebih terkenal dalam cerita masyarakat dengan gelar Prabu Siliwangi.

Kisah Jayadewata di tulis didalam Fragmen Carita Parahyangan, sebagai berikut :

Diganti ku Prebu, putra raja pituin, nya eta Sang Ratu Rajadewata, nu hilang di Rancamaya, lilana jadi ratu tilu puluh salapan taun.
Ku lantaran ngajalankeun pamarentahanana ngukuhan purbatisti purbajati, mana henteu kadatangan boh ku musuh badag, boh ku musuh lemes. Tengtrem ayem Beulah Kaler, Kidul, Kulon jeung Wetan, lantaran rasa aman.
Teu ngarasa aman soteh mun lakirabi dikalangan jalma rea, di lantarankeun ku ngalanggar Sanghiang Siksa.

Jayadewata sampai pada tahun 1482 masih memusatkan kegiatan pemerintahan Sunda di Kawali. Bisa disebut bahwa tahun 1333 - 1482 adalah Jaman Kawali, selanjutnya pusat pemerintahannya di pindahkan ke Pakuan. Didalam sejarah pemerintahan di Jawa Barat di sebut-sebut Kawali pernah menjadi pusat pemerintahan Sunda.

Nama Kawali diabadikan di dalam dua buah prasasti batu peninggalan Prabu Raja Wastu yang tersimpan di “Astana Gede ” Kawali. Prasasti tersebut menegaskan “mangadeg di kuta Kawali” (bertahta di kota Kawali) dan keratonnya yang disebut Surawisesa dijelaskan sebagai “Dalem sipawindu hurip” yang berarti keraton yang memberikan ketenangan hidup. (***)

Sumber Bacaan :
Kebudayaan Sunda (Suatu Pendekatan Sejarah) - Jilid 1, Edi S. Ekadjati, Pustaka Jaya, Bandung, Cet Kedua 2005
Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat, Jilid 2 dan 3, Tjetjep, SH dkk, Proyek Penerbitan Sejarah Jawa Barat Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat.
Yoseph Iskandar. Sejarah Jawa Barat (Yuganing Rajakawasa), Geger Sunten, Bandung 2005.
Yosep Iskandar, Perang Bubat, Naskah bersambung Majalah Mangle, Bandung, 1987.
Yus Rusyana Puisi Geguritan Sunda : PPPB, 1980
Tjarita Parahjangan, Drs.Atja, Jajasan Kebudayaan Nusalarang, Bandung- 1968.
Sejarah Bogor (Bagian 1), Saleh Danasasmita. Pemda DT II Bogor.
 pasundan.homestead.com - Sumber : Salah Dana Sasmita, Sejarah Bogor, 24 September 2008.
 wikipedia.org 5 April 2010.
 wikipedia.org tanggal 5 April 2010.

Sumber :
 http://akibalangantrang.blogspot.com/201…
 http://www.kalangsunda.net/apps/forums/t…

No Comments
Jul 19

PANTAI SAMUDRA BARU KARAWANG

Published By Encum Nurhidayat under WISATA    

PANTAI SAMUDRA BARU KARAWANGKarawang-berlokasi di Desa Sungai Buntu, Pedes, Karawang. Di daerah pesisir pantai ini, masyarakatnya banyak yang mengandalkan hidupnya pada hasil laut dan tambak. Pantai Samudera Baru belumlah dimanfaatkan sepenuhnya oleh Kabupaten Karawang sebagai daerah tujuan wisata. Padahal potensi Pantai Samudera Baru sangatlah bagus, meski jarak yang harus ditempuh lumayan jauh jika Anda berkendara dari Jakarta.

Sarana yang ada di Pantai Samudera Baru masih sangat minim, hanya ada deretan warung-warung makan tradisional yang menyediakan ikan sebagai menu utama. Dan sesekali jika hari libur nasional, ada panggung hiburan di sana.

Kecamatan Pedes berjarak 30 Km dari Kota Karawang, dan jalanan yang dilalui di beberapa bagian kurang bagus. Dari Rengasdengklok, Anda dapat menuju arah Desa Sungai Buntu untuk menuju Pantai Samudera Baru.

Ombak di Pantai Samudera Baru tidak begitu besar. Tiket masuk rombongan dan parkir Rp. 30.000, untuk satu mobil berisi 10 orang. Dan Anda dapat menyewa ban Rp. 10.000,- jika mengajak anak kecil yang belum bisa berenang sendiri. Selamat menikmati Pantai Samudera, Karawang.

sumber

3 Comments
Jul 19

BP3K GANDENG CHITOSAN

Published By Encum Nurhidayat under PERTANIAN KARAWANG    
Idi Junaedi (PPL WKPP Srikamulyan) Encum Nurhidayat (PPL WKPP Gempolkarya)Tirtajaya karawang - Balai Penyuluhan Pertanian perikanan dan Kehutan (BP3K) Kecamatan Tirtajaya kembali menggelar SLPTT serentak seluruh kelompoktani yang mendapat bantuan SLPTT yang di gelar di Aula BP3K Tirtajaya.
Dalam kesempat tersebut Ka.BP3K Dana Setiawan.Amd berharap dengan diadakannya pelatihan yang melibatkan per usahaan Pupuk Organik (Chitosan)dari PT. SAHA BHOJANA PARIPURNA , Obsanol, POPT serta para Penyuluh Pendamping dapat meningkatkan produktivitas petani. kami berharap atas kontribusi pihak perusahaan organic membina petani binaan kami bersama penyuluh, wawasan serta pendapatan petani yang ada di kecamatan Tirtajaya dapat meningkat ujarnya.
Petani di kecamatan Tirtajaya untuk MT 2011 musim (Gadu) sudah memulai tanam kurang lebih 75% untuk golongan air IV luas sawah seluruhnya 5658 Ha, Kami mentarget kan produktivitas untuk musim ini sekitar 7.2 ton/Ha semoga saja bisa terlaksana. Tambah Dana setiawan.
Jumlah kelompoktani yang mendapat bantuan SLPTT tahun 2011 di kecamatan Tirtajaya berjumlah 22 kelompok yang tersebar di 11 desa binaan.//(E.N)
No Comments
Jul 09

SEKELUMIT ASAL USUL WANAYASA PURWAKARTA

Published By Encum Nurhidayat under WISATA    

wanayasaYo kita mengenang dan mengulas kembali sejarah yang mungkin dari sebagian kita belum banyak yang tahu..mudah mudahan bermanfaat

Wanayasa adalah daerah yang tak terlepas dari sejarah Purwakarta.
Antara tahun 1819-1826 Pemerintahan Belanda melepaskan diri dari Pemerintahan Inggris yang ditandai dengan upaya pengembalian kewenangan dari para Bupati kepada Gubernur Jendral Van der Capellen. Dengan demikian Kabupaten Karawang dihidupkan kembali sekitar tahun 1820, meliputi wilayah tanah yang terletak di sebelah Timur kali Citarum/Cibeet dan sebelah Barat kali Cipunagara. Dalam hal ini kecuali Onder Distrik Gandasoli, sekarang Kecamatan Plered pada waktu itu termasuk Kabupaten Bandung.
Sebagai Bupati I Kabupaten Karawang yang dihidupkan kembali diangkat R.A.A. Surianata dari Bogor dengan gelar Dalem Santri yang kemudian memilih ibu kota Kabupaten di Wanayasa. Pada masa pemerintahan Bupati R.A. Suriawinata atau Dalem Sholawat, pada tahun 1830 ibu kota dipindahkan dari Wanayasa ke Sindangkasih, yang kemudian diberi nama PURWAKARTA yang artinya Purwa: permulaan, karta: ramai/hidup. Diresmikan berdasarkan besluit (surat keputusan) pemerintah kolonial tanggal 20 Juli 1831 nomor 2. (www.purwakarta.go.id)

sumber dari SEJARAH PURWAKARTA :

No Comments
Jul 08

GALUNGGUNG

Published By Encum Nurhidayat under SEJARAH    

Geger Hanjuang

Sri Jayabupati digantikan oleh puteranya, yaitu Darmaraja Jayamanahen Wisnumurti Sakalasundabuana, berkuasa pada tahun 1042 - 1065 M, didalam Fragmen Carita Parahyangan disebutkan : Nu hilang di winduraja lilana jadi ratu tilulikur taun. Darmaraja dikenal pula dengan sebutan Sang Mokteng Winduraja, karena dimakamkan di Winduraja.
Pengganti Darmaraja adalah Prabu Langlangbumi yang bertahta pada tahun 1065 1155 M. Fragmen Carita Parahyangan menyebutnya : Nu hilang di Kreta lawasna jadi ratu salapan puluh dua taun, lantaran ngukuhan kana lampah anu hade, ngadatang keun gemah ripah.
Pada masa pemerintahan Langlangbumi dianggap membawa kerajaan Sunda pada kesentausaan. Peristiwa sejarah yang menarik dalam masa pemerintahan Langlangbumi ialah berita yang termuat dalam prasasti yang ditemukan di Galunggung dekat bukit Geger Hanjuang, oleh penduduk setempat disebut Kabuyutan Linggawangi karena terletak di Desa Linggawangi, Kecamatan Leuwisari, Kabupaten Tasikmalaya. Prasasti tersebut kemudian disebut Prasasti Geger Hanjuang atau Prasasti Galunggung.
Prasasti Geger Hanjuang sekarang disimpan di Museum Pusat dengan nomor D-26. Isi prasasti itu ditulis dalam huruf dan bahasa Sunda Kuna yang cukup terang untuk dibaca. Walaupun hanya tiga baris pendek namun di dalamnya tercantum tanggal dan tahun.
Isi prasasti tersebut, sebagai berikut :
tra ba i gune apuy na-
sta gomati sakakala rumata-
k disusu(k) ku batari hyang pun

Menurut RPMSJB (1983 1984) : Prasasti tersebut bertanggal tra (trayodasi = ke-13) ba (badramasa = bulan Badra) atau tanggal 13 bulan Badra (Agustus/September) tahun 1 (gomati) 0 (nasta) 3 (apuy) 3 (gune). Arti lengkapnya ialah : Pada hari ke-13 bulan Badra tahun 1033 Saka Rumatak (selesai) disusuk oleh Batari Hyang. - Karena tidak disebutkan paksa (separuh bulan) dalam prasasti ini digunakan sistem amanta (perhitungan tanggal dari bulan baru ke bulan baru) yang hitungan tanggalnya diteruskan sampai 30. Perhitungan menurut tarih Masehi kira-kira tanggal 21 Agustus 1111 masehi. (RPMSJB, buku ketiga, hal 17).

RPMSJB menjelaskan pula, bahwa : Rumatak oleh penduduk setempat disebut Rumantak, bekas ibukota Kerajaan Galunggung yang terletak tidak jauh dari bukit Geger Hanjuang tempat prasasti itu ditemukan. Disusuk berarti dikelilingi dengan parit untuk pertahanan. Berita serupa dapat di temukan dalam prasasti Kawali dan Batutulis di Bogor. Sedangkan tokoh Batari Hyang di duga sebagai penguasa Kerajaan Galunggung waktu itu, adalah keturunan dan ahli waris Resiguru Sempakwaja pendiri Kerajaan Galunggung. (Ibid).
Kerajaan Galunggung
Pengaruh Galunggung terhadap perkembangan sejarah di tatar Sunda tidak terlepas dari eksistensi Resi Demunawan untuk menyatukan Sunda dengan Galuh, terutama ketika masa Sanjaya dan Manarah. Resi Demunawan mempersatukan Sunda dengan Galuh melalui perkawinan Manarah, Banga dan keturunan Saunggalah. Pengaruh dari Galunggung tersebut terlihat pula pada proses terbentuknya Perjanjian Galuh.
Pasca Resi Demunawan, Galunggung masih tetap memiliki pengaruh yang sangat kuat. Mengingat sejak pertama diperintah oleh Sempakwaja, Galunggung sudah menjadikan dirinya Negara Agama atau Kebataraan.
Kerajaan Galunggung telah ada pada Jaman Sempakwaja, putra Wretikandayun, pendiri Galuh (670). Daerah Galunggung diberikan Wretikandayun kepada Sempakwaja seiring dengan diangkatnya Amara Mandiminyak, adik Sempakwaja sebagai putra mahkota Galuh. Sempakwaja diberi gelar Resiguru di Galunggung dengan gelar Batara Danghyang Guru. Menurut RPMSJB : Sebuah naskah yang dimiliki oleh sesepuh Singaparna (berbahasa sunda berhuruf arab) dan berasal dari bagian akhir ada ke-19 masih menyebutkan tokoh sempakwaja diantara generasi pertama Kerajaan Galunggung. Ia masih dikenal dan disebut dalam berbagai mantra dan doa. Ia sudah didewakan orang (Buku Ketiga, hal.18). Mungkin yang dimaksudkan sudah didewakan sama halnya dengan pemahaman saat ini, yakni dianggap orang suci, karena peranannya dimasa lalu.
Galunggung dari masa kemasa memainkan peranan yang cukup penting, terutama sebagai pengimbang Galuh dan Sunda. Pada tahun 723 M, Sempakwaja pernah menyerahkan Galunggung beserta daerah bawahannya kepada putranya, Resi Demunawan sebagai bagian dari pembentukan Saung Galah. Resi Demunawan dikenal pula dengan sebutan Sang Seuweu Karma atau didalam carita Parahyangan dikenal dengan sebutan Rahiyang Kuku.
Kekuasaan Galunggung dalam tradisi silam dianggap sebagai sumber ilmu, karena ia dirikan sebagai kerajaan agama. Galunggung menurut Fragmen Carita Parahyangan memiliki batas sebelah utara gunung Sawal, sebelah timur Pelang Datar, dan sebelah selatan Ciwulan.
Berdasarkan catatan sejarah Kabupaten Tasikmalaya, eksistensi Galunggung dimulai pada abad ke VII sampai abad ke XII, Kerajaan tersebut sekarang menjadi Kabupaten Tasikmalaya. Pemerintahan Galunggung pada masa awal berbentuk Kebataraan. Galunggung mengabisheka raja-raja (dari Kerajaan Galuh) atau dengan kata lain raja baru dianggap syah bila mendapat persetujuan Batara yang bertahta di Galunggung. Batara atau sesepuh yang memerintah pada masa abad tersebut adalah sang Batara Sempakwaja, Batara Kuncung Putih, Batara Kawindu, Batara Wastuhayu, dan Batari Hyang. Sejak masa Batara Hyang pemerintahan Galunggung mengalami perubahan bentuk dari kebataraan menjadi kerajaan, sehingga disebut Kerajaan Galunggung.
Pada abad ke 18 kerajaan tersebut masih ada dengan nama Kabupaten Galunggung, berpusat di Singaparna. Karena alasan Historis, penduduk Kampung Naga di Salawu tabu menyebut nama Singaparna, mereka tetap menggunakan nama Galunggung.
Tentang Kerajaan penguasa Galunggung, yakni Hyang Batari dikenal adanya ajaran tetekon hirup yang dikenal sebagai Sang Hyang Siksakanda ng Karesian, ajarannya ini masih dijadikan ajaran resmi pada jaman Prabu Siliwangi (1482-1521 M) yang bertahta di Pakuan Pajajaran. Kerajaan Galunggung bertahan sampai 6 raja berikutnya yang masih keturunan Batari Hyang.
Batari Hyang disebut sebagai nu nyusuk na Galunggung. Ajaran yang tertulis dalam naskah itu disebutkan sebagai ajarannya. Tokoh ini pula yang dalam kropak 630 (Sanghyang Siksakandang Karesian) disebut sang sadu jati atau sang bijaksana atau sang budiman. Memang unik karena “pencipta” ajaran kesejahteraan hidup yang harus menjadi pegangan para raja dan rakyatnya itu adalah seorang wanita. Namun sampai saat ini belum ada sejarah yang membeberkan masalah ini. Biasanya ajaran demikian merupakan dominasi laki-lali dan bersifat maskulin, terutama ketika menyangkut masalah agama atau keyakinan. Demikian pula alasan Batari Hyang membangun parit pertahanan sebagai perlindungan pusat pemerintahannya sampai saat ini juga belum dapat dijelaskan.
Amanat Galunggung
Raja yang tidak bisa mempertahankan kabuyutan di wilayah kekuasaannya lebih hina ketimbang kulit musang yang tercampak di tempat sampah. Demikian cuplikan dari Amanat Galunggung yang dikenal pula dengan sebutan Amanat Prabu Darmasiksa.
Amanat ini disampaikan oleh Prabu Darmasiksa raja Saunggalah kepada Rajaputra yang kelak menggantikannya di Saunggalah, sebelum Prabu Darmasiksa pindah ke Pakuan (1187) untuk menjadi raja Sunda yang ke-25. Dari kropak 632, yang ditulis pada daun lontar, diketahui, Rajaputra dimaksud adalah Sang Lumahing Taman.
Isi kropak 632 yang dijelaskan tersebut adalah dari ajaran pembuat parit Galunggung, sedangkan tokoh pembuat parit Galunggung dalam prasasti Geger Hanjuan dikenal dengan nama Batari Hyang. Ajaran ini digunakan oleh Prabu Darmasiksa untuk menasehati putranya, namun nasihat tersebut ditujukan pula untuk semua anak cucunya, keturunannya kelak.
Jika dicermati lebih jauh, naskah ini memuat tentang tata politik pada jaman dahulu kala, sedangkan fungsi Kabuyutan digunakan sebagai pusat kegiatan intelektual dan keagamaan. Dari naskah ini diketahui peran Kabuyutan pada waktu itu, yakni merupakan salah satu pilar penting dari keberadaan negaranya, merupakan pusat kekuatan gaib raja dan kerajaannya.
Dalam periode lainnya kabuyutan disebut dangiang Sunda, tempat harga diri urang sunda dipertahankan, sehingga tempat itu dilindungi oleh raja, bahkan dianggap sakral. Sehingga jika gagal melindungi kabuyutan Galunggung, ia (rajaputra) lebih hina dari derajatnya kulit lasun ditempat sampah. Demikian pentingnya kabuyutan bagi kelangsungan negara menurut pemahaman urang Sunda dimasa silam.
Kegaiban raja dan kerajaannya yang dimaksud mungkin menyangkut kekuatan spiritual dari nilai-nilai yang ada dan diajarkan didalam lingkup kabuyutan. Ia bisa menjadi tuntutan perilaku para pemimpin dalam menjaga negerinya dan menjaga tradisi Sunda.
Amanat Galunggung bukan suatu judul naskah yang langsung ditulis demikian, namun disebutkan bagi sekumpulan naskah yang ditemukan di Kabuyutan Ciburuy Garut. Penamaan terhadap kumpulan naskah menjadi Amanat Galunggung diberikan oleh Saleh Danasasmita, yang turut mengkaji naskah ini pada tahun 1987. Menurut RPMSJB : Isi kropak tersebut yang dijelaskan sebagai ajaran pembuat parit di Galunggung (Batari Hyang) justru merupakan nasehat Darmasiksa kepada putranya sebelum ia berangkat ke Pakuan (Buku ketiga, hal 20)
Naskah yang dikatagorikan sebagai salah satu naskah tertua di Nusantara ini diperkirakan disusun pada abad ke-15, ditulis pada daun lontar dan nipah. Naskah ini menggunakan bahasa Sunda kuno dan aksara Sunda.
Jika dihubungan dengan Prabu Darmasiksa yang diceritakan dalam naskah Amanat Galunggung, menyebutkan Darmasiksa pernah memerintah Sanggalah II. Nama keraton tersebut sama dengan nama Keraton Resi Demunawan di Kuningan, yakni Saunggalah. Pada periode berikutnya berubah menjadi Saunggatang atau Saungwatang, terletak di Mangun reja. Ketiga nama tersebut berarti sama, yakni Rumah Panjang, suatu julukan yang wajar disebutkan pada masa itu untuk sebuah Keraton.
Didalam penelusuruan tentang hubungan Saunggalah I dengan Saunggalah II ditafsirkan, bahwa Saunggalah II kelanjutan dari Saunggalah I. Pendapat ini tentu akan mempengaruhi terhadap penafsiran Prabu Darmasiksa, sehingga ia disebut-sebut masih keturunan Resi Demunawan.
Beberapa penafisran sejarah mencoba menghubungkan bibit buit Rakyan Darmasiksa, pada akhirnya menyimpulkan muasal leluhurnya dari Kendan. Jika kita menyoal masalah Kendan tentunya tidak dapat dilepaskan dari Galuh, sehingga tak heran jika banyak masyarakat yang menafsirkan Amanat Galunggung terkait erat dengan nilai-nilai yang berlaku umum di Galuh pada waktu itu. Konon kabar, ajaran Sunda Wiwitan yang sekarang dijadikan tetekon hidup justru berkembang di wilayah ini, tidak di Pakuan, yang kadang pacaruk dengan ajaran lain sehingga susah menemukan identitas dari ajaran Sunda Wiwitan.
Didalam carita Parahyangan disebutkan Darmasiksa, atau Prabu Sanghyang Wisnu memerintah selama 150 tahun, namun di dalam naskah Wangsakerta menyebut angka 122 tahun, yakni sejak tahun 1097 1219 Saka atau 1175 1297 M. Sebagai bahan perbandingan ada 10 penguasa di Jawa Pawathan yang sejaman dengan masa pemerintahannya. Ia naik tahta 16 tahun pasca Prabu Jayabaya (1135 1159) M, penguasa Kediri Jenggala Wafat, iapun memiliki kesempatan menyaksikan lahirnya Kerajaan Majapahit (1293 M).
Menurut Carita Parahyangan yang mengisahkan sejarah Galuh, naskah yang diberi nama Amanat Galunggung memulai ceritanya dari alur Kerajaan Saunggalah I (Kuningan) yang diperkirakan telah ada pada awal abad 8 M. Masa ini terkait dengan kisah perebutan tahta Galuh oleh sesama keturunan Wretikandayun, yakni antara anak-anak mandi minyak disatu pihak dan anak dari Sempak Waja dan Jantaka. Sehingga secara politis, Sanggalah dijadikan kunci penting dalam menyelesaikan pembagian kekuasaan diantara keturunan Wretikandayun.
Kemudian masalah eksistensi Sanggalah, tentunya tidak dapat pula dilepaskan dari eksistensi Demunawan yang memiliki keistimewaan dari saudara-saudara lainnya, baik sekandung maupun dari seluruh teureuh Kendan. Karena sekalipun tidak pernah menguasai Galuh secara fisik, namun ia mampu mempengaruhi pola kebijakannya. Teka-teki tentang pengaruh dan kewibawaan Demunawan, yang dituruti semua pihak yang bertikai di Galuh inilah yang mungkin dapat dijadikan sandaran, bahwa Demunawan memang seorang tokoh agama, yang menjadi cikal bakal Kerajaan Saunggalah I, mempunyai suatu ajaran. Kemudian dianut pula oleh keturunannya yang menjadi Raja di Saunggalah I (Kuningan) dan kemudian pindah menjadi raja di Saunggalah II (Mangunreja / Sukapura) yaitu Prabu Guru Darmasiksa.
Prabuguru Darmasiksa pertama kali memerintah di Saunggalah I. Letak wilayah tersebut disinyalir di desa Ciherang, Kadugede, Kuningan. Kemudian diserahkan kepada puteranya dari istrinya yang berasal dari Darma Agung, yang bernama Prabu Purana (Premana).
Amanat Prabuguru Darmasiksa dari setiap halaman, diberi nomor sesuai terjemahan yang diberikan oleh Saleh Danasasmita (1987). Sistematika rangkuman tersebut terbagi dalam 4 bagian, yakni : (1) Amanat yang bersifat pegangan hidup / tetekon hirup. ; (2) Amanat yang bersifat perilaku yang negatif (non etis) ditandai dengan kata penafian ulah (jangan) dilakukan. ; (3) Amanat yang bersifat perilaku yang positif (etis) ditandai dengan kata imperatif kudu (harus) ; (5) Kandungan nilai, sebagai interpretasi penulis.
Sumber bacaan :
Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat, Jilid 2 dan 3, Tjetjep, SH dkk, Proyek Penerbitan Sejarah Jawa Barat Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat.
Sejarah Jawa Barat, Yoseph Iskandar, Geger Sunten, Bandung - 2005
Tjarita Parahjangan, Drs.Atja, Jajasan Kebudayaan Nusalarang, Bandung- 1968.
wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Galuh
Sumber
No Comments
Jul 05

SEJARAH SINGKAT TERBENTUKNYA KABUPATEN KARAWANG

Published By Encum Nurhidayat under SEJARAH    

karawang1

(Sumber : Pemda Kabupaten Karawang)

SEJARAH SINGKAT LAHIRNYA KABUPATEN KARAWANG

Bila kita melihat jauh ke belakang, ke masa Tarumanegara hingga lahirnya Kabupaten Karawang di Jawa Barat, Berturut-turut berlangsung suatu pemerintahan yang teratur, baik dalam system pemerintahan pusat (Ibu Kota). Pemegang kekuasaan yang berbeda, seperti Kerajaan Taruma Negara (375-618) Kerajaan Sunda (Awal Abad VIII-XVI). Termasuk pemerintahan Galuh, yang memisahkan diri dari kerajaan Taruma Negara, ataupun Kerajaan Sunda pada tahun 671 M. Kerajaan Sumedanglarang (1580-1608, Kasultanan Cirebon (1482 M) dan Kasultanan Banten ( Abad XV-XIX M).

Sekitar Abad XV M, agama Islam masuk ke Karawang yang dibawa oleh Ulama besar Syeikh Hasanudin bin Yusuf Idofi, dari Champa, yang terkenal dengan sebutan Syeikh Quro, sebab disamping ilmunya yang sangat tinggi, beliau merupakan seorang Hafidh Al-Quran yang bersuara merdu. Kemudian ajaran agama islam tersebut dilanjutkan penyebarannya oleh para Wali yang disebut Wali Sanga. Setelah Syeikh Quro Wafat, tidak diceritakan dimakamkan dimana. Hanya saja, yang ada dikampung Pulobata, Desa Pulokalapa, Kecamatan Lemahabang Wadas, Kabupaten Karawang, merupakan maqom (dimana Syech Quro pernah Tinggal).

Pada masa itu daerah Karawang sebagian besar masih merupakan hutan belantara dan berawa-rawa. Hal ini menjadikan apabila Karawang berasal dari bahasa Sunda. Ke-rawa-an artinya tempat berawa-rawa. Nama tersebut sesuai dengan keadaan geografis Karawang yang berawa-rawa, bukti lain yang dapat memperkuat pendapat tersebut. Selain sebagian rawa-rawa yang masih tersisa saat ini, banyak nama tempat diawali dengan kata rawa, seperti : Rawasari, Rawagede, Rawamerta, Rawagempol dan lain-lain.

Keberadaan daerah Karawang telah dikenal sejak Kerajaan Pajajaran yang berpusat di daerah Bogor. Karena Karawang pada masa itu, merupakan jalur lalu lintas yang sangat penting untuk menghubungkan Kerajaan Pakuan Pajajaran denga Galuh Pakuan, yang Berpusat di Ciamis. Sumber lain menyebutkan, bahwa buku-buku Portugis (Tahun 1512 dan 1522) menerangkan bahwa : Pelabuhan-pelabuhan penting dari kerajaan Pajajaran adalah : CARAVAN sekitar muara Citarum, Yang disebut CARAVAN, dalam sumber tadi adalah daerah Karawang, yang memang terletak sekitar Sungai Citarum.

Sejak dahulukala, bila orang-orang yang bepergian akan melewati daerah-daerah rawa, untuk keamanan, mereka pergi berkafilah-kafilah dengan menggunakan hewan seperti Kuda, Sapi, Kerbau atau, Keledai. Demikian pula halnya yang mungkin terjadi pada zaman dahulu, kesatuan-kesatuan kafilah dalam bahasa Portugis disebut CARAVAN yang berada disekitar muara Citarum sampai menjorok agak ke pedalaman sehingga dikenal dengan sebutan CARAVAN yang kemudian berubah menjadi Karawang. Dari Pakuan Pajajaran ada sebuah jalan yang dapat melalui Cileungsi atau Cibarusah, Warunggede, Tanjungpura, Karawang, Cikao, Purwakarta, Rajagaluh Talaga, Kawali, dan berpusat di kerajaan Galuh Pakuan di Ciamis dan Bojonggaluh.

Luas Kabupaten Karawang pada saat itu tidak sama dengan luas Kabupaten Karawang masa sekarang. Pada saat itu Kabupaten Karawang meliputi Bekasi, Subang, Purwakarta dan Karawang sendiri.

Setelah Kerajaan Pajajaran runtuh pada tahun 1579 M, pada tahun 1580, berdiri Kerajaan Sumedanglarang, sebagai penerus Kerajaan Pajajaran dengan Rajanya Prabu Geusan Ulun, Putera Ratu Pucuk Umum (Disebut juga Pangeran Istri) dengan Pangeran Santri Keturunan Sunan Gunung Jati dari Cirebon.

Kerajaan Islam Sumedanglarang pusat pemerintahannya di Dayeuhluhur dengan membawahi Sumedang, Galuh, Limbangan, Sukakerta dan Karawang. Pada tahun 1608 M, Prabu Geusan Ulum wafat digantikan oleh puteranya Ranggagempol Kusumahdinata, putera Prabu Geusam Ulum dari istrinya Harisbaya, keturunan Madura. Pada masa itu di Jawa Tengah telah berdiri Kerajaan Mataram dengan Rajanya Sultan Agung (1613-1645), Salah satu cita-cita Sultan Agung pada masa pemerintahannya adalah dapat menguasasi Pulau Jawa dan menguasai Kompeni (Belanda) dari Batavia.

Rangggempol Kusumahdinata sebagai Raja Sumedanglarang masih mempunyai hubungan keluarga dengan Sultan Agung dan mengajui kekuasaan mataram. Maka pada tahun 1620, Ranggagempol Kusumahdinata menghadap ke Mataram dan menyerahkan Kerajaan Sumdeanglarang dibawah naungan Kerajaan Mataram, Sejak itu Sumedanglarang dikenal dengan sebutan PRAYANGAN. Ranggagempol Kusumahdinata, oleh Sultan Agung diangkat menjadi Bupati Wadana untuk tanah Sunda dengan batas-batas wilayah disebelah Timur Kali Cipamali, sebelah Barat Kali Cisadane, dsebelah Utara Laut Jawa dan, disebelah Selatan Laut Kidul. Karena Kerajaan Sumedanglarang ada di bawah naungan Kerajaan Mataram, maka dengan sendirinya Karawang pun berada di bawah kekuasaan Mataram.

Pada Tahun 1624 Ranggagempol Kusumahdinata wafat; dimakamkan di Bembem Yogyakarta. Sebagai penggantinya Sultan Agung mengangkat Ranggagede, putra Prabu Geusan Ulun, dari istri Nyimas Gedeng Waru dari Sumedang, Ranggagempol II, putra Ranggagempol Kusumahdinata yang mestinya menerima Tahta Kerajaan. Merasa disisihkan dan sakit hati. Kemudian beliau berangkat ke Banten, untuk meminta bantuan Sultan Banten, agar dapat menaklukan Kerajaan Sumedanglarang. Dengan Imbalan apabila berhasil, maka seluruh wilayah kekuasaan Sumedanglarang akan diserahkan kepada Sultan Banten. Sejak itu Banyak tentara Banten yang dikirim ke Karawang terutama di sepanjang Sungai Citarum, di bawah pimpinan Pangeran Pager Agung, dengan bermarkas di Udug-udug.

Pengiriman bala tentara Banten ke Karawang, dilakukan Sultan Banten, bukan saja untuk memenuhi permintaan Ranggagempol II, tetapi merupakan awal usaha Banten untuk menguasai Karawang sebagai persiapan merebut kembali Pelabuhan Banten, yang telah dikuasai oleh Kompeni (Belanda) yaitu Pelabuhan Sunda Kelapa.

Masuknya tentara Banten ke Karawang beritanya telah sampai ke Mataram, pada tahun 1624 Sultan Agung mengutus Surengrono (Aria Wirasaba) dari Mojo Agung Jawa Timur, untuk berangkat ke Karawang dengan membawa 1000 prajurit dan keluarganya, dari Mataram melalui Banyumas dengan tujuan untuk membebaskan Karawang dari pengaruh Banten. Mempersiapkan logistik dengan membangun gudang-gudang beras dan meneliti rute penyerangan Mataram ke Batavia.

Di Banyumas, Aria Surengrono meninggalkan 300 prajurit dengan keluarganya untuk mempersiapkan Logistik dan penghubung ke Ibu kota Mataram. Dari Banyumas perjalanan dilanjutkan dengan melalui jalur utara melewato Tegal, Brebes, Cirebon, Indramayu dan Ciasem. Di Ciasem ditinggalkan lagi 400 prajurit dengan keluarganya, kemudian perjalanan dilanjutkan lagi ke Karawang.

Setibanya di Karawang, dengan sisa 300 prajurit dan keluarganya, Aria Surengrono, menduga bahwa tentara Banten yang bermarkas di udug-udug, mempunyai pertahanan yang sangat kuat, karena itu perlu di imbangi dengan kekuatan yang memadai pula.

Langkah awal yang dilakukan Surengrono membentuk 3 (Tiga) Desa yaitu desa Waringinpitu (Telukjambe), Parakan Sapi (di Kecamatan Pangkalan) yang kini telah terendam air Waduk Jatiluhur ) dan desa Adiarsa (sekarang termasuk di Kecamatan Karawang, pusat kekuatan di desa Waringipitu.

Karena jauh dan sulitnya hubungan antara Karawang dan Mataram, Aria Wirasaba belum sempat melaporkan tugas yang sedang dilaksanakan Sultan Agung. Keadaan ini menjadikan Sultan Agung mempunyai anggapan bahwa tugas yang diberikan kepada Aria Wirasaba gagal dilaksanakan.

Pengabdian Aria Wirasaba selanjutnya, lebih banyak diarahkan kepada misi berikutnya yaitu menjadikan Karawang menjadi lumbung padi sebagai persiapan rencana Sultan Agung menyerang Batavia, disamping mencetak prajurit perang.

Di desa Adiarsa, sangat menonjol sekali perjuangan keturunan Aria Wirasaba. Walaupun keturunan Aria Wirasaba oleh Belanda hanya dianggap sebagai patih di bawah kedudukan Bupati dari keturunan Singaperbangsa, tetapi ditinjau dari segi perjuangan melawan Belanda, pantas mendapat penghargaan dan penghormatan.

Karena perlawanannya terhadap Belanda, akhirnya Aria Wirasaba II ditangkap oleh Belanda dan ditembak mati di Batavia, Kuburannya ada di Manggadua, di dekat Makam Pangeran Jayakarta.

Putra Kedua Aria Wirasaba, yang bernama Sacanagara bergelar Aria Wirasaba III, berpendirian sama dengan Aria Wirasaba I dan II, tidk mau tunduk pada Belanda, serta tidak meninggalkan misi sesepuhnya, yaitu memajukan pertanian rakyat, irigasi dan syiar Islam.

Aria Wirasaba III meninggalkan kedudukannya sebagai patih, karena dirasakannya hanya menjadi jalur untuk menekan rakyatnya. Setelah wafat beliau dimakamkan di Kalipicung, termasuk desa Adiarsa sekarang.

KEMATIAN SINGAPERBANGSA

Kematian Singaperbangsa, juga lebih diakibatkan oleh salah tafsir Raden Trunojoyo Bupati Panarukan yang memberontak Pemerintahan Sunan Amangkurat I. Setelah Sultan Agung meninggal dalam usia 55 tahun Sunan Amangkurat I sebagai Putera Mahkota dilantik menjadi Raja di Mataram. Sebagai pengganti almarhum Ayahnya (Sultan Agung) Sunan Amangkurat I tidak seidiologi dengan perjuangan Ayahnya Sunan Amangkurat I sangat otoriter dan kejam terhadap rakyatnya.

Bahkan Istana Mataram dijadikan Mataram tempat untuk mengeksekusi sekitar 300 ulama. Karena dianggap sebagai pembangkang ulama-ulama pemimpin informal itu ditangkapi secara massal, termasuk Eyang dan Ayahnya Trunojoyoyang mati ditangan Sunan Amangkurat I.

Selama memerintah Mataram, Sunan Amangkurat I lebih berpihak kepada Kompeni, hal itu membuat rakyat Mataram marah besar. Tatkala Raden Trunojoyo memberontak bersama tentaranya yang dipimpin Natananggala, spontan mendapat dukungan dari semua pihak. Termasuk dari padepokan padepokan Islam Makasar, yang dipimpin Kraeng Galesung.

Trunojoyo seorang pemuda yang gagah dan berani, sehingga dalam waktu yang tidak terlalu lama, Pemerintahan Amangkurat I dapat diruntuhkan. Kota Plered, Jawa Tengah sebagai pusat Pemerintahan Mataram dapat dikuasai Trunojoyo. Sedangkan Sunan Amangkurat I melarikan diri menuju Batavia, meminta bantuan Belanda, namun baru sampai di Tegalarum (Tegal) Sunan Amangkurat I Meninggal. Namun sebelum meninggal, ia sempat melantik putranya yakni Amangkurat II.

Amangkurat II sebagai Raja Mataram, perjuangannya juga tidak sejalan denga Sultan Agung (Eyangnya), ia lebih cenderung meneruskan perjuangan ayahnya yakni Sunan Amangkurat I yang bekerjasama dengan Belanda, Ia tetap berusaha meminta bantuan Kompeni, Ia meloloskan diri ke Batavia lewat Laut Utara.

Sementara perjuangan Aria Wirasaba dan keturunannya, tetap konsisten terhadap perjuangan Sultan Agung terdahulu, bahwa Karawang dijadikan lahan Pertanian Padi untuk memenuhi logistik persiapan menyerang Batavia.

Namun Jika Masih ada sebagian generasi sekarang, masih mempertanyakan nasib Aria Wirasaba, sebab kalau mengacu kepada Pelat Kuning Kandang Sapi Besar, Pelantikan Wedana setingkat Bupati, antara Singaperbangsa dan Aria Wirasaba, dilantik secara bersamaan. Saat itu Singaperbangsa sebagai Bupati di Tanjungpura, sedangkan Aria Wirasaba Bupati Waringipitu. Tapi mengapa kini Aria Wirasaba tidak masuk catatan Administratif Pemerintah Daerah Kabupaten Karawang.

Perhatikan perkataan Hoofd-Regent (Bupati Kepala) dan Tweeden-Regent (Bupati Kedua) memang datang dari Belanda, yang menyatakan bahwa kedudukan Singaperbangsa lebih tinggi dari Aria Wirasaba. Sebaliknya kalau kita perhatikan sumber kekuasaan yang diterima kedua Bupati itu, yaitu Piagam Pelat Kuning Kandang Sapi Besar, yang ditulis Sultan Agung tanggal 10 bulan Mulud Tahun Alip, sama sekali tidak menyebut yang satu lebih tinggi dari lainnya Tapi dalam menyikapi hal ini, kita pun harus lebih arif dan bijaksana, karena setiap peristiwa memiliki situasi dan kondisi yang berbesa-beda itulah Sejarah (Sumber Suhud Hidayat Dalam Buku Sejarah Karawang Versi Peruri Halaman 42-51).

Demi menjaga keselamatan, Wilayah Kerajaan Mataram di sebelah Barat, pada tahun 1628 dan 1629 bala tentara kerajaan Mataram diperintahkan Sultan Agung untuk melakukan penyerangan terhadap VOC (Belanda) di Batavia Namun serangan ini gagal karena keadaan medan sangat berat berjangkitnya Malaria dan kekurangan persediaan makanan.

Dari kegagalan itu, Sultan Agung menetapkan daerah Karawang sebagai pusat Logistik, yang harus mempunyai pemerintahan sendiri dan langsung berada dibawah pengawasan Mataram, dan harus dipimpin oleh seorang pemimpin yang cakap dan ahli perang, mampu menggerakan masyarakat untuk membangun pesawahan, guna mendukung pengadaan logistic dalam rencana penyerangan kembali terhadap VOC (Belanda) di Batavia.

Pada tahun 1632, Sultan Agung mengutus kembali Wiraperbangsa dari Galuh dengan membawa 1000 prajurit dan keluarganya menuju Karawang tujuan pasukan yang dipimpin oleh Wiraperbangsa adalah membebaskan Karawang dari pengaruh Banten, mempersiapkan logistik sebagai bahan persiapan melakukan penyerangan kembali terhadap VOC (Belanda) di Batavia, sebagaimana halnya tugas yang diberikan kepada Aria Wirasaba yang telah dianggap gagal.

Tugas yang diberikan kepada Wiraperbangsa dapat dilaksanakan dengan baik dan hasilnya dilaporkan kepada Sultan Agung atas keberhasilannya, Wiraperbangsa oleh Sultan Agung dianugerahi jabatan Wedana (setingkat Bupati ) di Karawang dan diberi gelar Adipati Kertabumi III, serta diberi hadiah sebilah keris yang bernama KAROSINJANG.Setelah penganugerahan gelar tersebut yang dilakukan di Mataram, Wiraperbangsa bermaksud akan segera kembali ke Karawang, namun sebelumnya beliau singgah dulu ke Galuh, untuk menjenguk keluarganya. Atas takdir Ilahi beliau wafat di Galuh, jabatan Bupati di Karawang, dilanjutkan oleh putranya yang bernama Raden Singaperbangsa dengan gelar Adipati Kertabumi IV yang memerintah pada tahun 1633-1677, Tugas pokok yang diemban Raden Adipati Singaperbangsa, mengusir VOC (Belanda) dengan mendapat tambahan parjurit 2000 dan keluarganya, serta membangun pesawahan untuk mendukung Logistik kebutuhan perang.

Hal itu tersirat dalam piagam Pelat Kuning Kandang Sapi Gede yang bunyi lengkapnya adalah sebagai berikut : Panget Ingkang piagem kanjeng ing Ki Rangga gede ing Sumedang kagadehaken ing Si astrawardana. Mulane sun gadehi piagem, Sun Kongkon anggraksa kagengan dalem siti nagara agung, kilen wates Cipamingkis, wetan wates Cilamaya, serta kon anunggoni lumbung isine pun pari limang takes punjul tiga welas jait. Wodening pari sinambut dening Ki Singaperbangsa, basakalatan anggrawahani piagem, lagi lampahipun kiayi yudhabangsa kaping kalih Ki Wangsa Taruna, ingkang potusan kanjeng dalem ambakta tata titi yang kalih ewu; dipunwadanahaken ing manira, Sasangpun katampi dipunprenaharen ing Waringipitu ian ing Tanjungpura, Anggraksa siti gung bongas kilen, Kala nulis piagem ing dina rebo tanggal ping sapuluh sasi mulud tahun alif. Kang anulis piagemmanira anggaprana titi .

Terjemahan dalam Bahasa Indonesia :

Peringatan piagam raja kepada Ki Ranggagede di Sumedang diserahkan kepada Si Astrawardana. Sebabnya maka saya serahi piagam ialah karena saya berikan tugas menjaga tanah negara agung milik raja. Di sebelah Barat berbatas Cipamingkis, disebelah Timur berbatas Cilamaya, serta saya tugaskan menunggu lumbung berisi padi lima takes lebih tiga belas jahit. Adapun padi tersebut diterima oleh Ki Singaperbangsa. Basakalatan yang menyaksikan piagam dan lagi Kyai Yudhabangsa bersama Ki Wangsataruna yang diutus oleh raja untuk pergi dengan membawa 2000 keluarga. Pimpinannya adalah Kiayi Singaperbangsa serta Ki Wirasaba. Sesudah piagam diterima kemudian mereka ditempatkan di Waringinpitu dan di Tanjungpura. Tugasnya adalah menjaga tanah negara agung di sebelah Barat.

Piagan ini ditulis pada hari Rabu tanggal 10 bulan mulud tahun alif. Yang menulis piagam ini ialah anggaprana, selesai.

Tanggal yang tercantum dalam piagam pelat kuningan kandang sapi gede ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Karawang berdasarkan hasil penelitian panitia sejarah yang dibentuk dengan Surat Keputusan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Karawang nomor : 170/PEM/H/SK/1968 tanggal 1 Juni 1968 yang telah mengadakan penelitian dari pengkajian terhadap tulisan :

1. Dr. Brandes dalam Tyds Taal-land En Volkenkunde XXVIII Halaman 352,355, menetapkan tahun 1633;
2. Dr. R Asikin Wijayakusumah dalam Tyds Taal-land En Volkenkunde XXVIII 1937 AFL, 2 halaman 188-200 (Tyds Batavissc Genot Schap DL.77, 1037 halaman 178-205) menetapkan tahun 1633;
3. Batu nisan makam panembahan Kiyai Singaperbangsa di Manggungjaya Kecamatan Cilamaya tertulis huruf latin 1633-1677;
4. Babad Karawang yang ditulis oleh Mas Sutakarya menulis tahun 1633.

Hasil Penelitian dan pengkajian panitia tersebut menetapkan bahwa hari jadi Kabupaten Karawang pada tanggal 10 rabiul awal tahun 1043 H, atau bertepatan dengan tanggal 14 September 1633 M atau Rabu tanggak 10 Mulud 1555 tahun jawa/saka.

SILSILAH KEPALA DAERAH KABUPATEN KARAWANG.

1. RADEN ADIPATI SINGAPERBANGSA (1633-1677)

Raden Adipati Singaperbangsa putra Wiraperbangsa dari Galuh (Wilayah Kerjaaan Sumedanglarang) Bergelar Adipati Kertabumi IV. Pada masa pemerintahan Raden Adipati Singaperbangsa, pusat pemerintahan Kabupaten Karawang berada di Bunut Kertayasa. Sekarang termasuk wilayah Kelurahan Karawang Kulon, Kecamatan Karawang Barat. Dalam melaksanakan tugasnya Raden Adipati Singaperbangsa didampingi oleh Aria Wirasaba, yang pada saat itu oleh kompeni disebut sebagai HET TWEEDE REGENT , sedangkan Raden Adipati Singaperbangsa sebagai HOOFD REGENT.Raden Adipati Singaperbangsa, wafat pada tahun 1677, dimakamkan di Manggung Ciparage, Desa Manggung Jaya Kecamatan Cilamaya Kulon. Raden Adipati Singaperbangsa, dikenal pula dengan sebuatn Kiai Panembahan Singaperbangsa, atau Dalem Kalidaon atau disebut juga Eyang AMnggung.

2. RADEN ANOM WIRASUTA (1677-1721)

Raden Anom Wirasuta Putra raden Adipati Singaperbangsa bergelar Adipati Panatayudha I.Beliau dilantik menjadi Bupati di Citaman Pangkalan. Beliau setelah wafat, dimakamkam di Bojongmanggu Pangkalan, Karena beliau dikenal pula dengan sebutan Panembahan Manggu.

3. RADEN JAYANEGARA (1721-1731)

Raden Jayanegara adalah putra Anom Wirasuta, bergelar Adipati Panatayudha II. Setela wafat beliau dimakamkan di Waru Tengah Pangkalan. Karena itu beliau dikenal juga sebagai Panembahan Waru Tengah

4. RADEN SINGANAGARA (1731-1752)

Raden Singanagara, putra Jayanegara, bergelar Raden Aria Panatyudha III. Raden Singanagara dikenal juga dengan nama Raden Martanegara. Setalh wafat dimakamkan di Waru Hilir, Pangkalan. Karena itu beliau dikenal dengan Panembahan Waru Hilir. Pada tanggal 28 November 1994, makam Raden Anom Wirasuta (Bupati Karawang ke-2), makam Raden Jayanegara (Bupati Karawang ke-3) dan Raden Singanagara (Bupati Karawang ke-4) dipindahkan ke Areal dekat makam Raden Adipati Singaperbangsa di Manggung Ciparage, Desa Manggungjaya, Kecamatan Cilamaya Kulon.

5. RADEN MUHAMMAD SALEH (1752-1786)

Raden Muhammad Saleh, putra Raden Singanagara, bergelar Raden adipati Panatayudha IV. Raden Muhammad Saleh dikenal pula dengan nama Raden Muhammad Zaenal Abidin atau Dalem Balon. Setelah wafat beliau dimakamkan di Serambi Mesjid Agung Karawang. Karena itu Raden Muhammad Saleh dikenal juga dengan sebutan Dalem Serambi. Pada tanggal 5 Januari 1994 Makam Raden Muhammad Saleh dipindahkan juga kea real Manggung dekat dengan makam Raden Adipati Singaperbangsa, di Manggung Ciparage, Desa Manggungjaya, Kecamatan Cilamaya Kulon

6. RADEN SINGASARI (1786-1809)

Raden Singasari, putra mantu Raden Muhammad Saleh, bergelar Raden adipati Aria Singasari atau Pantayudha IV. Pada tahun 1809 Raden Aria Singasari dialihtugaskan menjabat Bupati Brebes Jawa Tengah. Raden Adipati Aria Singasari wafat pada tahun 1836 dan dimakamkan di Duro Kebon agung Jati Barang, Brebes Jawa Tengah. Karena beliau dikenal juga dengan sebutan Dalem Duro.
7. RADEN ARIA SASTRADIPURA (1809-1811)

Raden Aria Sastradipura, putra Raden Muhammad Saleh, beliau ditugaskan sebagai Cutak (Demang) setingkat Patih dengan tugas pekerjaan Bupati.

8. RADEN ADIPATI SURYALAGA (1811-1813).

Raden Adipati Suryalaga, pada waktu kecil bernama Raden Ema, beliau putra Sulung Raden Adipati Suryalaga, Bupati Sumedang (1765-1783) Raden Suryalaga, adalah saudara misan dan menantu Pangeran Kornel, yaitu Suami dan Putri Pangeran Kornel yang bernama Nyi Raden Ageng, Raden Adipati Suryalaga wafat di Talun Sumedang. Karena itu beliau dikenal pula dengan sebutan Dalem Talun.

9. RADEN ARIA SASTRADIPURA (1831-1820)

Raden Aria Sastradipura, putra Muhammad Saleh ( Bupati Karawang ke-5). Beliau untuk kedua kalinya ditugaskan sebagai Cutak di Karawang, setelah yang pertama pada Periode tahun 1809-1811. Pada tahun 1813 Kabupaten Karawang dihapuskan, tetapi pada tahun 1821 dibentuk kembali dengan pusat pemerintahan berkedudukan di Wanayasa, Purwakarta.

PARA BUPATI KARAWANG YANG BERKEDUDUKAN DI PURWAKARTA.

10. RADEN ADIPATI SURYANATA (1821-1828)

Raden Adipati Suryanata, putra RAden Adipati Wiranata Dalem Sepuh Bogor Keturunan Cikundul. Raden Adipati Suryanata Menikah dengan Nyi Salamah, putrid Aria Sastradipura, (Bupati Karawang ke-9). Pada masa Pemerintahan Raden Adipati Suryanata, kantor dipindahkan dari Karawang ke Wanayasa (Purwakarta). Raden Adipati Suryanata wafat pada tahun 182 dimakamkan di Nusa Situ Wanayasa, Purwakarta.

11. R. ADIPATI SURYAWINATA (1828-1849)

Raden Suryawinata alias Raden Haji Muhammad Sirod, putra Raden Adipati Wiranata Dalem Sepuh Bogor, (adik Raden Adipati Suryanata Bupati Karawang yang memerintah tahun 1821-1828). Pada awal masa pemerintahan beliau, pusat pemerintahan masih di Wanayasa, selama 2 tahun, dan pada tahun 1830, pusat Pemerintahan dipindahkan dari Wanayasa ke Sindangkasih serta menamakan daerah tersebut Purwakarta. Purwa artinya permulaan dan Karta, sama dengan Ramai atau hidup, dengan demikian nama Purwakarta baru dikenal pada masa pemerintahan Raden Adipati Suryawinata. Pada tahun 1849 Raden Adipati Suryawinata dialihtugaskan menjadi Bupati Bogor hingga wafat tahun 1872. Raden Adipati Suryawinata Dikenal pula dengan sebutan Dalem Solawat atau Dalem Santri.

12. RADEN MUHAMMAD ENOH (1849-1854)

Raden Muhammad Enoh, putar Dalem Aria Wiratanudatar VI, bergelar Raden Sastranagara. Taden Muhammad Enoh, wafat pada tahun 1854 dan dimakamkan di Masjid agung Purwakarta.

13. RADEN ADIPATI SUMADIPURA (1854-1863).

Raden Adipati Sumadipura, putra Raden Adipati Sastradipura (Bupati Karawang Ke-8) yang dilahirkan pada tahun 1814 dengan sebutan lainnya Uyang Ajian, atau Dalem Sepuh. Raden Adipati Sumadipura, bergelar Raden Tumenggung Aria Sastradiningrat I. Beliau yang membangun Pendopo Kabupaten, Mesjid Agung dan Situ Buleud di Purwakarta. Raden Adipati Sumadipura, wafat pada tahun 1863 di Purwakarta dan dimakamkan di Masjid Agung Purwakarta.

14. RADEN ADIKUSUMNAH (1863-1886)

Raden Adikusumah alias Apun Hasan, putra Uyang Ajian yang bergelar Raden Adipati Sastradiningrat II. Beliau dilahirkan pada tahun 1837, wafat pada tahun 1886 dan, dimakamkan di Masjid Agung Purwakarta.

15. RADEN SURYAKUSUMAH ( 1886-1911)

Raden Suryakusumah alias Apun Harun, putra Raden Adikusumah, bergelar Raden Sastradiningrat III, Raden Suryakusunah, wafat pada tahun 1935 dan dimakamkan di Masjid Agung Purwakarta.

16. RADEN TUMENGGUNG ARIA GANDANAGARA (1911-1925)

Raden Tumenggung Aria Gandanagara, Adik Raden Suryakusumah, bergelar Raden Adipati Sastradiningrat IV, Beliau juga dikenal dengan sebutan Dalem Aria. Raden Tumenggung Aria Gandanagara wafat pada tahun 1940 dimakamkan di Masjid Agung Purwakarta.

17. RADEN ADIPATI SURYAMIHARJA (1925-1942)

Raden Suryamiharja, putra Raden Rangga Haji Muhammad SyafeI asal Garut, bergelar Raden Adipati Songsong Kuning, Raden Adipati Aria Suryamiharja, merupakan Bupati Karawang terakhir masa pendudukan Jepang.

18. RADEN PANDUWINATA (1942-1945)

Raden Panduwinata dikenal pula dengan sebutan Raden Kanjeng Pandu Suryadiningrat. Merupakan Bupati pada masa pendudukan Jepang.

PARA BUPATI KARAWANG YANG BERKEDUDUKAN DI SUBANG

19. Raden Juarsa (1945-1948)

Berhubung sedang bergejolaknya Revolusi, maka pada masa Pemerintahan Raden Juarsa, Pusat Pemerintahan Kabupaten Karawang dipindahkan dari Purwakarta ke Subang.

20 RADEN ATENG SURAPRAJA DAN, R. MARTA (1948-1949)

Pada tahun 1948-1949 di Kabupaten Karawang ditunjuk dua orang Bupati oleh dua Pemerintahan yang berbeda, yaitu,

1. Radeng Ateng Surya Praja, adalah Bupati Karawang yang ditunjuk oleh Negara Pasundan (Bentuk Recomban).
2. R. Marta adalah Bupati Karawang jaman Gerilya yang ditunjuk oleh Pimpinan Badan Pemerintahan Sipil Jawa Barat Bulan Oktober 1948.

PARA BUPATI KARAWANG YANG BERKEDUDUKAN KEMBALI DI KARAWANG

21. R.M. HASAN SURYA SACA KUSUMAH (1949-1950)

R.M. Surya Saca Kusumah, Bupati Karawang yang diangkat oleh Republik Indonesia, Serikat (RIS) Sesuai dengan Undang-undang Nomor 14 tahun 1950 tentang pembentukan daerah Kabupaten di lingkungan Pemerintahan Provinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat. Maka pada saat itu Kabupaten Karawang terpisah dari Kabupaten Purwakarta, Ibukota Kabupaten Karawang adalah di Karawang. Sedang Ibukota Purwakarta tetap di Kabupaten Subang. Dalam Sumber lain dikatakan bahwa menurut Keputusan Wali Negeri Pasundan nomor 12 tanggal 29 Januari 1949. Kabupaten Karawang dibagi menjadi dua Bagian yaitu Kabupaten Karawang Barat dan Kabupaten Karawang Timur (Kabupaten Purwakarta) di Subang, Kabupaten Karawang Barat meliputi daerah kewedanan Karawang, Rengasengklok, Cikampek, Cikarang, Tambun, dan Sarengseng. Sedangkan Kabupaten Karawang Timur (Purwakarta) meliputi daerah kewedanan Subang, Ciasem, Pamanukan, Sagalaherang dan Kewedanan Purwakarta.

22. RADEN RUBAYA (1950-1951)

Raden Rubaya putra Raden Suryanatamiharja, asal Sumedang, yang menjabat Wedana Leles, di Garut. Raden Rubaya memegang jabatan Bupati Karawang pada tahun 1950-1951.

23. MOH. TOHIR MANGKUDIJOYO (1951-1960)

Moh Tohir Mangkudijoyo Putra Jaka, Asal Plered Purwakarta, pada masa Pemerintahannya, Beliau didampingi oleh Kepala Daerah Moh.Ali Muchtar, putra Cakrawiguna (Komis Pos Plered) asal Jatisari. Pada Tahun 1950 sampai 1959 Kabupaten mengalami tiga macam pergantian pemerintahan daerah.

PERTAMA; Pemerintahan Daerah Sementara, yang berlangsung pada tanggal 30 Desember 1950 sampai dengan tanggal 22 September, 1956 yang terdiri atas.

1. Dewan Perwakilan Rakyat Sementara (DPRS) sebagai unsur Legislatif diketuai oleh M. Sukarmawijaya.
2. Dewan Pemerintahan Daerah Sementara (DPRS) sebagai Eksekutif. Diketuai oleh Moh. Tohir Mangkudijoyo, dengan Wakil Ketua Suhud Hidayat.

KEDUA; Pemerintah Daerah Peralihan yang berlangsung tanggal 22 September 1956 23 Januari 1958, terdiri dari :

1. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Peralihan (DPRDP), sebagai unsure Legislatif, diketuai oleh A.Samosir Gultom.
2. Dewan Pemerintahan Rakyat Daerah Peralihan (DPDP).sebagai unsure Eksekutif diketuai oleh Moh. Tohir Mangkudijoyo.

KETIGA; Pemerintahan Daerah HAsil Pemilihan Umum tahun 1955 yang berlangsung dari tanggal 25 Januari 1958 sampai dengan 20 Oktober 1959, terdiri dari:

1. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRDP) sebagai unsure Legislatif diketuai oleh Samosir Gultom.
2. Dewan Pemerintahan Daerah (DPD) sebagai unsure Eksekutif diketuai oleh Moh. Tohir Mangkudijoyo.

24. LETKOL INF.H.HUSNI HAMID (1960-1971)

Letnan Kolonel INF. H. Husni Hamid, putra ketiga haji Abdul Hamid asal Cilegon Banten. Sebelum menjabat Bupati Kepala Daerah Tingkat II Karawang Jabatan Beliau adalah Dandim 0604 Karawang.Berdasarkan Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959 dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 1960, Jabatan Bupati merangkap sebagai Kepala Daerah dan Ketua DPRD-GR, namun peraturan tersebut dirubah lagi oleh undang-undang Nomor 19 tahun 1963, yang menyatakan bahwa Jabatan Bupati tidak lagi merangkap sebagai ketua DPRD-GR, pada periode tahun 1964-1968, Bupati Karawang Letnan Kolonel INF H.Husni Hamid, didampingi Ketua DPRD-GR Kosim Suchuri, putra Haji Ahmad Said. Letnan Kolonel INF.Husni Hamid, wafat tahun 1980 dan dimakamkan di Cikutra Bandung, Pada masa ini telah di mulai di laksanakan Pembangunan Kota Karawang sebelah Utara.

25. KOLONEL INF.SETIA SYAMSI (1971-1976)

Kolonel INF, Setia Syamsi, putra E. Suparman asal Bandung, dilahirkan pada tanggal 3 April 1926, Jabatan Beliau sebelum menjadi Bupati Karawang, adalah Dan Dim 0604 Karawang (1964-1969) Kepala Staf. Brig.12 / Guntur Dam, VI/Siliwangi di Cianjur (1969-1971).

26. KOLONEL INF. TATA SUWANTA HADISAPUTRA (1976-1981)

Kolonel INF.Tata Suwanta Hadisaputra, putra Taslim Kartajumena, asal Cirebon, dilahirkan di Bandung pada tanggal 23 April 1924, Jabatan Beliau sebelum menjadi Bupati Kepala Daerah Tingkat II Karawang, adalah Dan Dim Garut, kemudian dialihtugaskan ke Korem Tarumanegara di Garut, Anggota DPRD TK I Jawa Barat, di Bandung. Kolonel INF. Tata Suwanta Hadisaputra sewaktu menjabat Bupati Kepala Daerah Tk.II Karawang didampingi oleh Ketua DPRD Letnan Kolonel INF R.H Jaja Abdullah sampai dengan tanggal 7 Juli 1977, Ketua DPRD selanjutnya yang mendampingi Beliau mulai tanggal 26 Agustus 1977, adalah Letnan Kolonel INF, Sujana Priyatna.

27. KOLONEL CPL. H. OPON SOPANDJI (1981-1986)

Kolonel CPL. H. Opon Sopandji, putra Atmamiharja asal Sukapura Tasikmalaya. Sebelum menjabat Bupati Kepala Daerah Tk.II Karawang Beliau adalah sebagai Ketua DPRD Kabupaten Bogor, semasa menjabat Bupati Daerah Tk.II Karawang, Kolonel CPL. H. Opon Sopandji didampingi oleh Ketua DPRD Letnan Kolonel Inf. H. Sujana Priyatna.

28. KOLONEL CZI. H. SUMARNO SURADI

Kolonel CZI. H. Sumarno Suradi, putra Suradi asal Bandung. Sebelum menjabat Bupati Daerah Tingkat II Karawang. Beliau menjabat sebagai Kepala Markas Pertahanan Wilayah Sipil (Kamawil) VIII Daerah Tingkat Provinsi Jawa Barat. Selama menjabat Bupati Daerah Tingkat II Karawang, Kolonel CZI. H. Sumarno Suradi, didampingi oleh Keua DPRD Kolonel Inf.H Sujana Priyatna, sampai dengan tanggal 16 Juli 1992, Ketua DPRD yang mendampingi beliau selanjutnya adalah Kolonel INF. H. Jamal Safiudin, yamg dilahirkan di Bandung pada tanggal 16 Juli 1938.

29. KOLONEL INF. DRS DADANG S. MUCHTAR

Kolonel INF, Drs H. Dadang S. Muchtar, putra RE. Herman, asal Cirebon dilahirkan di Klangenan Cirebon pada tanggal 4 September 1952. Sebelum menjabat Bupati Kepala Daerah Tingkat II Karawang. Beliau menjabat Asisten Logistik (Aslog) Kodam III Siliwangi (1996) dalam mengemban tugasnya beliau didampingi oleh Ketua DPRD Kolonel INF. H. Jamal Safiudin sampai dengan tanggal 3 Agustus 1999, kemudian yang mendampingi beliau adalah Adjar Sujud Purwanto, putra A.S.Wagianto seorang pejuang 45 dari Cikampek . Namun pada tanggal 21 Pebruari 2000, Kolonel INF, Drs. H. Dadang S. Muchtar resmi berhenti dan kembali ke Mabes TNI.

30. PLT. RH. DAUD PRIATNA SH.M.SI (2000)

R.H. Daud Priatna SH, M.Si. putra R. Khoesoe Abdoelkohar, asal Pedes Karawang, lahir pada tanggal 29 Juli 1941. Berdasarkan SK Menteri Dalam Negeri Nomor 131.32.055 tanggal 21 Pebruari 2000. Ditunjuk disamping Tugas dan Jabatan Wakil Bupati, merangkap sebagai Sekwilda Tingkat II Subang dan dalam mengemban tugasnya didampingi oleh Ketua DPRD Adjar Sujud Purwanto.

31. LETKOL (PURN) ACHMAD DADANG, PERIODE (2000-2005)

Letnan Kolonel Purnawirawan Achmad Dadang, putra Tjasban, beliau putra daerah Karawang, Lahir pada tanggal 8 Agustus 1948, di Desa Cikalong Cilamaya, dilantik 16 Desember 2000, oleh Gubernur R.Nuriana berdasarkan SK Mendagri dan Otonomi Daerah Nomor; 312.32.583 bersama Drs. H.D. Sholahudin Muftie, putra H. Jamil B.Yusup, lahir di Karawang pada tanggal 3 Nopember 1945, sebagai Wakil Bupati Karawang.

Sebelum menjabat Bupati Karawang beliau menjabat Dan Dim Aceh Timur Langsa dan Ketua DPRD Tingkat II Aceh Timur Langsa. Dalam mengemban tugasnya didampingi oleh Ketua DPRD Kabupaten Karawang Adjar Sujud Purwanto. Sebelum masa jabatannya berakhir, H. Achmad Dadang diberhentikan karena tersangkut kasus tindak pidana korupsi, dan digantikan wakilnya HD. Shalahuddin Muftie.

32. PLT. DRS. H.D. SHALAHUDIN MUFTIE MSi, PERIODE NOPEMBER DESEMBER 2005

Drs. HD. SHALAHUDIN MUFTIE, M.Si, menjabat Bupati selama satu bulan berdasarkan SK Mendagri menggantikan Letkol Purnawirawan H. Achmad Dadang, yang diberhentikan dengan tidak hormat.

33. Drs. DADANG S. MUCHTAR PERIODE 2005-2010

Drs. H. Dadang S. Muchtar, adalah Bupati Karawang pertama yang dipilih langsung oleh rakyat melalui pemilihan umum. Dalam Pemilu yang diselenggarakan KPUD, Drs. H. Dadang S. Muchtar berpasangan dengan Hj. Eli Amalia Priatna yang diusung Partai Golkar, mendapat suara terbanyak dan ditetapkan sebagai Bupati dan Wakil Bupati. Sebelumnya Drs. H. Dadang S. Muchtar pernah menjabat Bupati Karawang Tahun 1996-2000. Demikianlah sejarah singkat silsilah Kepala Daerah Kab.Karawang yang sudah baku dan sumber informasinya diperoleh dari Bagian Humas Pemkab Karawang tanggal 14 September, silsilah ini selalu dibacakan, hingga sampai kini saat Bupati Drs. H. Dadang S. Muchtar, yang menjabat Bupati untuk kedua kalinya.

34. PLT. Ir. H. IMAN SUMANTRI, PERIODE DESEMBER 2010

Ir. Iman Sumantri ditunjuk sebagai Plt. Bupati Karawang berdasarkan radiogram Kementerian Dalam Negeri Nomor T.131.32/3816/OTDA tertanggal 14 Desember 2010 yang ditandatangani oleh Dirjen Otonomi Daerah, Prof. Dr. H. Djohermansyah Djohan, MA atas nama Menteri Dalam Negeri. Dalam radiogram tersebut dinyatakan bahwa Sekretaris Daerah, Ir. Iman Sumantri melaksanakan tugas sehari-hari Bupati sampai dengan ditetapkannya Bupati definitif.

35. Drs. H. ADE SWARA, MH, PERIODE 2010-2015

Drs. H. Ade Swara, MH, dilahirkan di Ciamis pada tanggal 15 Juni 1960. Merupakan Bupati terpilih hasil Pemilukada Kab. Karawang Tahun 2010. Drs. H. Ade Swara yang berpasangan dengan dr. Cellica Nurrachadiana yang resmi dilantik sebagai Bupati dan Wakil Bupati Karawang Periode 2010 - 2015 menggantikan Drs. H. Dadang S. Muchtar dan Hj. Eli Amalia Priatna yang telah habis masa jabatannya. Prosesi pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan keduanya dilakukan oleh Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan atas nama Presiden Republik Indonesia pada Rapat Paripurna Istimewa DPRD di Gedung Paripurna DPRD Kab. Karawang

5 Comments
Jul 04

PENGARUH IKLIM TERHADAP PRODUKTIFITAS TANAMAN PADI SAWAH

Published By Encum Nurhidayat under ARTIKEL    

DI SUSUN OLEHEncum Nurhidayat

Encum Nurhidayat
NIM : A1 B 0 9006

FAKULTAS PERTANIAN
AGROBISSNIS

UNIVERSITAS BALE BANDUNG

PENDAHULUAN

Iklim merupakan komponen ekosistem dan faktor produksi yang sangat dinamik dan sulit dikendalikan. Dalam praktek, iklim dan cuaca sangat sulit untuk dimodifikasi/dikendalikan sesuai dengan kebutuhan, kalaupun bisa memerluan biaya dan teknologi yang tinggi. Iklim/cuaca sering seakan-akan menjadi faktor pembatas produksi pertanian. Karena sifatnya yang dinamis, beragam dan terbuka, pendekatan terhadap cuaca/iklim agar lebih berdaya guna dalam bidang pertanian , diperlukan suatu pemahaman yang lebih akurat teradap karakteristik iklim melalui analisis dan interpretasi data iklim. Mutu hasil analisis dan interpretasi data iklim, selain ditentukan oleh metode analisis yang digunakan, juga sangat ditentukan oleh jumlah dan mutu data. Oleh karena itu, diperlukan koordinasi dan kerjasama yang baik antar instasi pengelola dan pengguna data iklim demi menunjang pembangunan pertanian secara keseluruhan.

Menyimak pemberitaan beberapa media masa akhir-akhir ini tentang semakin rawannya ketersediaan pangan di Indonesia tentunya sangat memprihatinkan. Pengaruh kegagalan panen, bangkrutnya petani dan harga pangan yang makin meningkat dapat meruntuhkan prospek pertumbuhan ekonomi. Kondisi dimana harga bahan pangan dan komoditi lain yang tinggi tentu saja berakibat pada peningkatan inflasi. Semakin rawannya ketahanan pangan di Indonesia merupakan akibat semakin menurunnya luas lahan pertanian dan produktivitas lahan yang tidak mungkin ditingkatkan. Artinya beberapa upaya untuk meningkatkan hasil produksi pertanian sudah tidak ekonomis lagi.

Peningkatan kebutuhan terhadap produksi pertanian akibat peningkatan jumlah penduduk di satu sisi, dan semakin terbatasnya jumlah sumber daya pertanian disisi lain, menuntut perlunya optimalisasi seluruh sumber daya pertanian, terutama lahan dan air. Oleh sebab itu, sistem usahatani yang selama ini lebih berorientasi komoditas (commodity oriented) harus beralih kepada sistem usahatani yang berbasis sumber daya (commodity base), seperti halnya sistem usahatani agribisnis. Salah satu aspek penting dalam pengembangan agribisnis adalah bahwa kualitas hasil sama pentingnya dengan kuantitas dan kontinuitas hasil.

Disamping faktor tanah, produktivitas pertanian sangat dipengaruhi oleh ketersediaan air dan berbagai unsur iklim. Namun dalam kenyataannya, iklim/cuaca sering seakan-akan menjadi faktor pembatas produksi. Hal tersebut disebabkan kekurang selarasan sistem usahatani dengan iklim akibat kekurang mampuan kita dalam memahami karakteristik dan menduga iklim, sehingga upaya antisipasi resiko dan sifat ekstrimnya tidak dapat dilakukan dengan baik. Akibatnya, sering tingkat hasil dan mutu produksi pertanian yang diperoleh kurang memuaskan dan bahkan gagal sama sekali.

Sesuai dengan karakteristik dan kompleksnya faktor iklim, maka kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dalam memodifikasi dan mengendalikan iklim sangat terbatas. Oleh sebab itu pendekatan yang paling efektif untuk memanfaatkan sumber daya iklim adalah menyesuaikan sistem usahatani dan paket teknologinya dengan kondisi iklim setempat. Penyesuaian tersebut harus didasarkan pada pemahaman terhadap karakteristik dan sifat iklim secara baik melalui analisis dan interpretasi data iklim. Mutu hasil analisis dan interpretasi data iklim, selain ditentukan oleh metode analisis yang digunakan, juga sangat ditentukan oleh jumlah dan mutu data.

Peranan unsur-unsur iklim bagi tanaman (Tanaman Padi)

Pertumbuhan dan produksi tanaman padi merupakan hasil akhir dari proses fotosintesis dan berbagai fisiologi lainnya. Proses fotosintesis sebagai proses awal kehidupan tanaman pada dasarnya adalah proses fisiologi dan fisika yang mengkonversi energi surya (matahari) dalam bentuk gelombang elektromagnetik menjadi energi kimia dalam bentuk karbohidrat. Sebagian energi kimia tersebut direduksi/ dirombak menjadi energi kinetik dan energi termal melalui proses respirasi, untuk memenuhi kebutuhan internal tanaman. Sedangkan bagian lainnya direformasi menjadi beberapa jenis senyawa organik, termasuk asam amino, protein dan lain-lain melalui beberapa proses metabolisme tanaman.

Selain radiasi surya, proses fotosintesis bulir padi sangat ditentukan oleh ketersediaan air, konsentrasi CO2 dan suhu udara. Sedangkan proses respirasi dan beberapa proses metabolisme tanaman secara signifikan dipengaruhi oleh suhu udara dan beberapa unsur iklim lain. Proses transpirasi yang menguapkan air dari jaringan tanaman ke atmosfer merealisasikan proses dinamisasi dan translokasi energi panas, air, hara dan berbagai senyawa lainnya di dalam jaringan tanaman. Secara fisika, proses transpirasi tanaman sangat ditentukan oleh ketersediaan air tanah (kelembaban udara), radiasi surya, kelembaban nisbi dan angin.

Selain proses metabolisme, proses pembungaan, pengisian biji dan pematangan biji atau buah tanaman padi juga sangat dipengaruhi oleh radiasi surya (intensitas dan lama penyinaran), suhu udara dan kelembaban nisbi serta angin. Oleh sebab itu, produkstivitas dan mutu hasil tanaman padi yang banyak ditentukan pada fase pengisian dan pematangan biji atau buah sangat dipengaruhi oleh berbagai unsur iklim dan cuaca, terutama radiasi surya dan suhu udara.
Pada Tabel 1 disajikan matriks relative peranan unsur-unsur iklim dalam berbagai proses fisiologis, pertumbuhan dan produksi tanaman.

Tabel 1. Peranan unsur-unsur iklim bagi tanaman

Unsur Iklim X1 X2 X3 X4 X5 X6 X7
1.Hujan
2.Radiasi
Surya
3.LPenyinaran
4.Suhu
5.RH
6.ETP
7.CO2
8.Angin

Sumber : Irianto, Las dan Sumarini, 2000.
Keterangan :
X1= Fotosistesis
X2= Respirasi
X3= Evapotranspirasi tanaman
X4= Pertumbuhan
X5= Perkembangan dan pembungaan
X6= Pemasakan dan umur
X7= Produksi

jumlah bintang mencerminkan bobot pengaruh.

Secara aktual, berbagai proses fisiologi, pertumbuhan dan produksi tanaman sangat dipengaruhi oleh unsur cuaca, yaitu keadaan atmosfer dari saat ke saat selama umur tanaman, ketersediaan air (kelembaban tanah) sangat ditentukan oleh curah hujan dalam periode waktu tertentu dan disebut sebagai unsur iklim, yang pada hakikatnya adalah akumulasi dari unsur cuaca (curah hujan dari saat ke saat). Demikian juga, pertumbuhan dan produksi tanaman merupakan manivestasi akumulatif dari seluruh proses fisiologi selama fase atau periode pertumbuhan tertentu oleh sebab itu dalam pengertian yang lebih teknis dapat dinyatakan bahwa pertumbuhan dan produksi tanaman dipengaruhi oleh berbagai unsur iklim (sebagai akumulasi keadaan cuaca) selama pertumbuhan tanaman.

Pemanfaatan Informasi Iklim dalam Budidaya tanaman padi

Secara teknis dalam budidaya tanaman padi sawah, hampir semua unsur iklim berpengaruh terhadap produksi dan pengelolaan tanaman. Namun masing-masing mempunyai pengaruh dan peran yang berbeda teradap berbagai aspek dalam budidaya tanaman.

Sedangkan secara konseptual, pendekatan dan informasi iklim dalam pembangunan pertanian berkaitan dengan 5 aspek atau kegiatan (Las, Fagi & Pasandaran, 1999 dalam Surmaini, dkk.), yaitu :
a. pengembangan wilayah dan komoditas pertanian seperti kesesuaian lahan, perencanaan tata ruang, pemwilayahan agroekologi dan komoditi, sistem informasi geografi (GIS) dan lain-lain
b. perencanaan kegiatan operasional (budidaya) pertanian, seperti perencanaan pola tanam, pengairan, pemupukan, PHT (pengendalian hama terpadu), panen, dan lain-lain
c. peramalan dan analisis sistem pertanian, seperti daya dukung lahan, ramalan produksi, pendugaan potensi hasil dan produktivitas pertanian
d. pengelolaan dan konservasi lahan (tanah dan air)
e. menunjang kegiatan penelitian komoditas dan sumberdaya lahan serta pengkajian teknologi pertanian, terutama dalam merumuskan atau menyimpulkan hasilnya.

Informasi iklim sangat dibutuhkan dalam mengidentifikasi potensi dan daya dukung wilayah untuk penetapan strategi dan arah kebijakan pengembangan wilayah, seperti pola tanam seperti IP 200 (padi-padi-palawija) dan IP 300 (padi-padi-padi), cara pengairan (intermitn), pemwilayahan agroekologi, dan komoditi. Pemwilayahan komoditi pertanian dapat disusun berdasarkan agroklimat, karena tiap jenis tanaman mempunyai persyaratan tumbuh tertentu untuk berproduksi optimal. Suatu tanaman yang tumbuh, berkembang dan berproduksi optimal secara terus-menerus memerlukan kesesuaian iklim. Kondisi kesesuaian tersebut memungkinkan suatu wilayah untuk dikembangkan menjadi pusat produksi suatu komoditi pertanian. Kajian sumberdaya agroklimat pada strata ini harus sejajar dan padu dengan kajian tanah, sosial ekonomi dan faktor produksi lainnya.

Informasi iklim yang dibutuhkan dalam pengembangan wilayah adalah identifikasi dan interpretasi potensi dan kendala iklim berdasaran data meteorologi, seperti curah hujan, suhu udara, radiasi surya dan unsure iklim lainnya. Pada kajian yang lebih kuantitatif data iklim dibutuhkan sebagai input utama dalam pemodelan/simulasi pendugaan potensi produksi atau produktivitas dan daya dukung lahan.

Keadaan iklim aktual (cuaca) pada periode tertentu sangat menentukan pola tanam padi, jenis Varietas, teknologi usahatani, pertumbuhan , produksi tanaman, serangan hama/penyakit dan lain-lainnya. Apalagi sistem usahatani pada lahan kering seperti padi gogo, berbagai unsur iklim terutama pola dan distribusi curah hujan sangat dominan teradap produksi.

Dalam praktek, iklim dan cuaca sangat sulit untuk dimodifikasi/dikendalikan sesuai dengan kebutuhan, kalaupun bisa memerluan biaya dan teknologi yang tinggi. Untuk itu, pendekatan yang memerlukan input rendah adalah menyesuaikan kegiatan budidaya dan paket teknologi pertanian dengan iklim dan cuaca yang ada pada suatu wilayah.

Efektivitas dan efisiensi pestisida untuk pengendalian hama dan penyakit pada tanaman padi sawah juga sangat ditentukan oleh curah hujan, suhu udara dan kelembaban. Pengendalian hama terpadu (PHT) dengan menggunakan musuh alami yang dimungkinkan atas dasar pengetahuan tentang iklim dan cuaca. Faktor cuaca, suhu, curah hujan, kelembaban dan faktor cuaca lainnya dapat mempengaruhi cara dan keberhasilan pengendalian hama penyakit, baik yang dilakukan dengan cara kimiawi, hayati maupun kultur teknis.

Kegiatan operasional pertanian memerlukan prakiraan cuaca /iklim yang lebih akurat dan kuantitatif dalam periode harian, dasarian, bulanan atau musiman. Ini dapat dilakukan melalui pengembangan /penerapan sistem analisis dan teknik prakiraan cuaca dan pendugaan iklim yang lebih kuantitatif dengan model statistik. Akurasi analisis dalam prakiraan tersebut sangat tergantung pada ketersediaan, sebaran dan mutu data meteorologi.

Dibandingkan dengan faktor produksi atau sumberdaya pertanian lainnya, peranan dan pertimbangan terhadap sumberdaya iklim dalam pembangunan dan peningkatan produksi pertanian relatif terbatas. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor antara lain :
a. perbedaan persepsi terhadap karakteristik iklim. Banyak kalangan mengagnggap iklim bukan sebagai sumberdaya, melainkan sebagai kendala produksi pertanian.
b. Kurangnya apresiasi terhadap sumberdaya iklim. Sumberdaya iklim yang dinilai bersifat given harus diterima apa adanya dan tidak perlu dilakukan upaya antisipasi dan upaya memanfaatkannya secara optimal.
c. Sangat terbatasnya informasi iklim efektif dan aplikatif (berdayaguna) untuk bidang atau kegiatan pertanian. Informasi agroklimat yang efektif dan aplikatif dapat berupa identifikasi, analisis dan interpretasi, prediksi, ramalan, zonasi, modeling dan lain-lain.

Selain sangat erat kaitannya dengan kemampuan dan penguasaan teknik dan metodologi analisis iklim, keterbatasan informasi yang aplikatif dan efektif juga disebabkan oleh terbatasnya jumlah, mutu dan sebaran data iklim. Beberapa faktor penting untuk mengatasi keterbatasan tersebut adalah melalui memperbanyak peralatan/stasiun pengamatan serta penyediaan dan pembinaan SDM untuk meningkatkan mutu pengamatan dan kemampuan analisis.

Informasi Iklim dalam Ketahanan Pangan dan Pengembangan Agribisnis

Resiko pertanian akibat pengaruh iklim antara lain terjadi melalui dampak kekeringan, kebasahan atau banjir, suhu tinggi, suhu rendah atau frost, angin, kelembaban tinggi dan lain-lain. Resiko pertanian akibat iklim tersebut, selain menyebabkan rendahnya hasil baik secara kuantitas maupun kualitas, juga ketidakstabilan produksi pertanian secara nasional. Faktor penyebab resiko pertanian antara lain, fluktuasi dan penyimpangan iklim, ketidaktepatan peramalan iklim, perencanaan usahatani dan pemilihan komoditas/varietas yang kurang sesuai dengan kondisi iklim.

Analisis iklim dalam kaitannya dengan resiko pertanian antara lain adalah pemodelan iklim untuk peramalan iklim dan penyimpangannya, karakteristik dan analisis sifat curah hujan, peluang deret hari kering (tanpa hujan) dalam kaitannya dengan kekeringan, intensitas dan pola curah hujan dalam kaitannya dengan resiko ancaman banjir, erosi dan lain-lain.

Dalam pembangunan pertanian yang lebih berorientasi atau berbasis dan bertujuan untuk optimalisasi dan efisiensi sumberdaya pertanian termasuk sumberdaya agroklimat dibutuhkan suatu sistem pertanian preskriptif (prescriptif farming). Sistem preskriptif adalah sistem usaha pertanian yang sesuai (produkstivitas tinggi dan efisien) dengan potensi sumberdaya, faktor sosial ekonomi dan kelembagaan (Makarim, Sirman dan Sarlan, 1999).

Dalam sistem pertanian preskriptif dibutuhkan informasi yang lengkap dan handal seluruh komponen dan sub komponen dalam sistem produksi, termasuk iklim (Bell and Doberman, 1997 dalam Surmaini, 2000). Berbeda dengan komponen produksi lain, peluang untuk memanipulasi faktor iklim sangat kecil, sulit diduga tetapi sangat menentukan produktivitas tanaman. Oleh sebab itu, informasi iklim sangat strategis dan menjadi pertimbangan yang lebih dini dalam pengembangan pertanian preskreptif tersebut.

Berdasarkan analisis resiko akibat iklim, dapat dikembangkan sistem pengelolaan lahan yang terintegrasi dengan mempertimbangkan karakteristik biofisik, terutama sumberdaya tanah dan iklim. Untuk lebih efektif dan berdaya hasil tinggi dan berkelanjutan, diperlukan kombinasi optimal antara teknologi produksi dan komoditas padi tertent dengan sistem pengelolaan sumberdaya lahan secara optimal.

Konsep budidaya tanaman padi tangguh yang antara lain dicirikan oleh sistem agribisnis adalah Budidaya yang mampu menghasilkan produksi secara optimal, mantap (stabil) dan berkelanjutan yang secara ekonomi menguntungkan serta mampu melestarikan sumberdaya dan lingkungan. Oleh sebab itu, analisis resiko iklim tidak hanya ditujukan untuk memproteksi tanaman dari deraan iklim, tetapi juga memproteksi atau mengkonservasi sumberdaya lahan secara efektif dan antisipatif.

Hambatan Pengembangan Jaringan Pengamatan dan Data Base Iklim

Dinamika iklim yang sangat tinggi membutuhkan teknik dan metode analisis yang komprehensif dengan sistem data base yang iklim yang handal dan berkelanjutan. Untuk itu, data base iklim harus diperaharui dan untuk kebutuhan berbagai analisis iklim pada umumnya membutuhkan data seri waktu dalam periode tertentu. Oleh sebab itu, pengkayaan dan pemutakhiran data iklim yang didukung oleh sistem pengamatan yang baik haruslah berkelanjutan.

Selain adanya interaksi antar unsurnya, kondisi iklim suatu lokasi saling berkorelasi dengan lokasi lainnya, baik dalam skala lokal (meso) maupun regional dan global (makro). Oleh sebab itu, untuk menghasilkan informasi iklim dan analisis resiko iklim yang efektif dan akurat dibutuhkan data iklim dari beragai stasiun pengamatan iklim yang satu sama lain saling melengkapi dan bersifat sinergis (Las, Irianto & Surmaini, 2000).

Kegunaan stasiun iklim adalah :
(a) untuk mengetahui kondisi cuaca dan iklim secara real time untuk berbagai keperluan/tujuan,
(b) pengkayaan data (berdasarkan waktu dan lokasi) untuk keperluan analisis dan interpretasi iklim yang membutuhkan data time series dari banyak lokasi,
(c) untuk mendukung peramalan/pendugaan iklim. Oleh sebab itu, kerapatan stasiun sangat besar pengaruhnya terhadap akurasi analisis dan interpretasi iklim. Untuk setiap pembangunan stasiun iklim harus diintegrasikan dalam satu sistem dengan stasiun lainnya, tanpa harus mempertimbangkan sistem kepemilikan (Las, Irianto & Surmaini, 2000).

Data iklim yang tersedia saat ini masih sangat terbatas dengan sebaran yang tidak merata. Namun demikian sebagian diantaranya malah over lapping akibat belum efektifnya sistem koordinasi dan jejaringan kerjasama antar instansi penyedia dan pengguna data iklim. Jenis unsur iklim yang diamati dan periode pengamatan masih sangat beragam dan sering terputus. Akibatnya sebagian data tidak dapat dimanfaatkan.

Selain sistem koordinasi, standarisasi alat dan sistem pengamatan juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan tujuan pengamatan dalam suatu jaringan stasiun iklim. Sebagian alat yang ada diamati dengan interval pengamatan yang tidak sama untuk tujuan yang sama atau sebaliknya ada pengamatan yang sama untuk tujuan yang berbeda.

Kesimpulan

Dari uraian diatas, dapat disimpulkan :

1. Iklim merupakan komponen ekosistem dan faktor produksi yang sangat dinamik dan sulit dikendalikan dan diduga dalam Produktifitas tanaman padi dan semua jenis tanaman, oleh karena itu pendekatan yang paling baik dalam rangka pembangunan pertanian adalah menyesuaikan sistem usahatani dengan keadaan iklim setempat
2. Faktor iklim mempunyai peranan yang sangat penting dalam perencanaan dan sistem produksi pertanian karena seluruh unsur iklim berpengaruh terhadap berbagai proses fisiologis, pertumbuhan dan produktivitas tanaman.
3. untuk meningkatkan efektifitas infomasi iklim dan penggunaannya, perlu dikembangkan suatu sistem jaringan stasiun dan data base yang lebih efektif yang didukung sistem kelembagaan dan koordinasi yang terpadu.

Acuan

Las, Irianto & Surmaini. 2000 Pengantar Agroklimat dan Beberapa Pendekatannya Balitbang Pertanian, Jakarta.

Makarim, dkk. 1999. Efisiensi Input Produksi Tanaman Pangan melalui Prescription Farming. Simposium Tanaman pangan IV. Puslitbang Tanaman Pangan, Bogor.

Surmaini, dkk. 1999. Analisis Peluang Penyimpangan Iklim dan Pola Ketersediaan Air pada Wilayah Pengembangan IP Padi 300. Puslittanak ARMP II, Balitbang Pertanian, Jakarta.

Winarso, P.A. 2000 Kondisi & Masalah Penyusunan Prakiraan Cuaca & Iklim dan Prospeknya di Indonesia BMG, Jakarta.

Winarso, P.A. 1998 Peramalan Cuaca & Iklim serta Pemanfaatannya untuk Pertanian Makalah Pelatihan Analisa & Pemantauan Faktor Iklim untuk Pertanian, Dept. Pertanian, Jakarta.

No Comments
Jul 04

SANGHYANG SERI LEBARKAN SAYAP SHS SHOP DI KARAWANG

Published By Encum Nurhidayat under PERTANIAN KARAWANG    

encum nurhidayatSUBANG SUKAMANDI - Setelah sukses diberbagai wilayah dengan Program SHS Shop, PT Sang Hyang Seri (SHS) (Persero) kembali berencana bekerjasama SHS Shop untuk cabang terbarunya di wilayah Karawang, Purwakarta, Subang, Bekasi, Sumedang danTasikmalaya.
Direktur Utama PT SHS (Persero), yang di wakili Kabid Pemasaran Sumanto mengatakan, rencana kerjasama PT. Sanghyang seri dengan KTNA, Gapoktan serta para Penyuluh Pertanian yang kebetulan di dominasi oleh THLTBPP yang di undang secara mendadak ini, bertujuan untuk melebarkan sayap dalam penyediaan Pupuk serta Pestisida yang di kemas dalam bentuk program SHS Shop. ini tidak lepas dari keinginan untuk lebih mendekatkan diri dengan para petani khususnya dalam pelayanan. \\\”Sebagai perintis dan pelopor usaha pembenihan di Indonesia, kami ingin selalu mendekatkan diri dengan para petani,\\\” ujarnya dalam pertemuan di gedung pertemuan PT. Sanghyang seri, Kamis (30/6).
Beragam produk yang dibutuhkan petani tersedia lengkap di SHS Shop mulai dari benih tanaman pangan seperti padi, kedelai, jagung, kacang-kacangan yang inbrida atau hibrida, bermacam-macam pupuk dari organik atau an organik, obat-obatan untuk pembunuh wereng atau tikus, hingga alat-alat pertanian.
\\\”Segala produk tersebut terjamin kualitas dan keasliannya. Kami bisa pastikan bahwa produk tersebut asli dan apabila ada yang palsu atau tidak sesuai kenyataan, para petani bisa mengembalikannya,\\\” jelasnya.
Sumanto menambahkan, selain menyediakan beragam produk pertanian, pihaknya pun menyediakan Saung Ikem sebagai tempat untuk para petani saling berdiskusi dan bertukar informasi. \\\”Tempat ini bebas digunakan oleh para petani baik untuk saling belajar, bertukar informasi, konsultasi dengan Penyuluh yang pada ujungnya mampu meningkatkan produktivitas petani,\\\” paparnya.
Dalam kesempatan yang sama, sekretaris Forum THL TBPP Karawang Encum Nurhidayat yang kami temui dalam pertemuan itu mengatakan bahwa pihaknya menyambut baik hadirnya SHS Shop di wilayah Karawang \\\”Sebagai perusahaan milik pemerintah (BUMN) kami anggap ini merupakan bentuk kepedulian pemerintah terhadap para petani,\\\” tuturnya.
Salman Efendi (ketua KTNA Kecamatan Tirtajaya) mengatakan, saat ini para petani sangat membutuhkan cara mengatasi masalah hama wereng dan tikus yang sedang menyerang tanaman mereka. Ia berharap, hadirnya SHS Shop dengan \\\’Saung ikem\\\’ di dalamnya mampu mendapatkan solusi terbaik sehingga kerugian dapat diminimalisir.
\\\”Hanya saja kami mengusulkan agar dalam Saung Ikem ditambahkan informasi harga-harga produk pertanian di pasaran, sehingga para petani dapat mengetahui perkembangan harga di pasaran,\\\” tandasnya.

No Comments
Older Posts »
  • KALENDER
    Mei 2013
    S S R K J S M
    « Jul    
     12345
    6789101112
    13141516171819
    20212223242526
    2728293031  
  • DAFTAR
    • SEKAPUR SIRIH
    • TAUHID
  • tulisan terakhir
    • SITUS DESA DONGKAL KARAWANG
    • Awal Peradaban di Pantai Utara Karawang Jawa Barat
    • Tiga Prabu Wangi
    • PANTAI SAMUDRA BARU KARAWANG
    • BP3K GANDENG CHITOSAN
  • HUBUNGI AKU DI FB
    Encum Nurhidayat Pamanah Rasa

    Buat Lencana Anda
  • Komentar Terakhir
    • ahmad busaeri pada SEJARAH SINGKAT TERBENTUKNYA KABUPATEN KARAWANG
    • ahmad busaeri pada SEJARAH SINGKAT TERBENTUKNYA KABUPATEN KARAWANG
    • Jhansehatmand damanik pada PANTAI SAMUDRA BARU KARAWANG
    • habibhasnanhabib pada SEJARAH SINGKAT TERBENTUKNYA KABUPATEN KARAWANG
    • [BLOCKED BY STBV] Easy Food pada SEJARAH SINGKAT TERBENTUKNYA KABUPATEN KARAWANG
  • Arsip
  • Popular Tags
  • Blogroll
    • RENUNGAN JIWA THL PERTANIAN - Ocehan Nurani THL Pertanian
    • SHS_SHOP HIDAYATTANI - TEMANNYA PETANI
    • WordPress.com
    • WordPress.org
    • blog pribadi encum nurhidayat - lumbung padi jawa barat
  • Meta
    • Log in
    • WordPress
    • XHTML
    • CSS